Friday, November 27, 2020

Kembali Ke Literasi


Kemarin saya berkesempatan silaturahim dengan Pimpinan Persis Se-Jabodetabeka dan Banten dalam acara Refleksi 1 Abad Persatuan Islam 1923-2023 di @Hom Hotel Tambun Bekasi (24/10/20). Saya hadir diajak teman saya pak Misbahuddin untuk melakukan dokumensi acara tersebut. 


Dalam acara yang dihadiri tokoh-tokoh Persis tersebut tentu banyak sekali ilmu yang disampaikan. Hal baru bagi saya dapat terlibat langsung dalam acara seperti ini. Sebelumnya saya hanya membaca Persis sebagai sebuah gerakan Islam pembaharuan.Tentu saja Persis bukan hanya sebuah gerakan keagamaan, tapi juga memiliki Pondok Pesantren yang melahirkan ribuan santri setiap tahunnya. Hadirnya buku yang berkualitas dari para tokohnya. 


Saya sendiri kemarin mendapatkan beberapa buku yang mengingatkan saya kembali akan penting literasi. Dalam acara itu saya mendapatkan beberapa buku, pertama dikasih langsung oleh Penulis nya yaitu Ade Khairul Anwar dengan judul Rumah Impian, kemudian saat pulang dikasih lagi beberapa buku lainnya. Dari beberapa buku itu, yang sudah saya baca Cuma satu yaitu buku karya Ust. Wildan Hasan dengan judul Persis nu Ana. Sebelumnya saya juga sempat membaca buku yang dikasih langsung oleh beliau yaitu Bawalah Facebookmu Ke Surga. 


Saat mendapatkan buku tesebut saya teingat saat jadi Mahasiswa di Lampung maupun di STID Mohammad Natsir Jakarta. Dimana hampir setiap ada kajian kita mendapatkan buku gratis atau paling tidak saya membelinya. Saya punya koleksi sekitar seribuan buku yang sudah saya bawa pulang kerumah. 

Setelah menjadi Mahasiswa dan tuntutan untuk membaca buku serta diskusi hampir tidak pernah saya lakukan lagi. Padahal saya sendiri aktif di Majalah Sahabat, tapi jarang penah baca buku. Karena itu setelah acara Persis kemarin, saya mencoba kembali untuk peduli pada literasi. Karena literasi itu penting untuk Ilmu Pengetahuan dan Wawasan.  Sepertinya saya harus membuat perpustakaan pribadi agar bisa kembali dengan literasi bukan dengan terasi.

Gambar Hanya Ilustrasi (Suara.com)


Challenge Anies Baswedan

Bebepa hari ini lalu banyak yang memposting foto duduk sambil membaca buku, hal ini terinspiasi dari Anies Baswedan (gubenur DKI Jakarta) yang mengaploud foto dirinya sambil membaca buku How Democracies Die. Foto Anies ini viral hingga kedalam istana Negara, bahkan beberapa pejabat publik mengaku sudah membaca itu ditahun 2002, padahal buku itu pertama dirilis 2018 yang lalu. Challenge seperti yang dilakukan Pak Anies juga pernah dilakukan oleh Jokowi hingga Prabowo. 


Karena itu menurut hemat saya Challenge yang dilakukan tokoh-tokoh itu perlu ditiru atau paling tidak kita bisa membuat Challenge “sahabat semua hari ini sudah membaka buku apa?” Sambil memposting membaca buku. Saya sendiri kemarin sempat membuat challenge ini dengan memposting membaca buku Persis nu Ana. 


Terserah kita membaca buku apa saja termasuk komik, majalah, Koran, dan lain-lain. Karena budaya membaca Indonesia sangat rendah, maka dengan banyak memposting kita membaca akan memberikan jalan untuk orang lain akan penasaan untuk mencari dan membacanya. Hal ini bisa menjadi salah satu altenatif untuk meningkatkan minat baca. 


Baca Komik

Diwaktu saya masih duduk dibangku MTss di Lhokseumawe dan tinggal di Panti Asuhan, saya sering menyewa komik dan membacanya hingga berjam-jam. Bahkan saya pernah kedapatan membawa komik kesekolah dan sita oleh guru. Saya masih ingat yang menyita komik yang saya baca itu Pak Anwar, guru komputer pertama saya. 


Tapi saat di Panti Asuhan dan bahkan saya minta izin untuk menyewa komik kepada Waled (Ust. Drs. Boihaqi Muhammad). Beliau mengizinkan saya dan meminta dibawa ke tempat beliau terlebih dahalu sebelum saya membacanya. Beliau cuma melihat sekilas dan mengembalikan lagi ke saya tentu saja  mengizinkan saya untuk membaca komik-komik itu. 


Ternyata beliau paham itu akan menjadi awal mula minat baca saya dari komik-komik itu. Setelah SMA saya sudah mulai suka dengan buku Komputer dan bisnis media. Bahkan beberapa tulisan saya dimuat di tabloid minguan seperti PCplus. Saya menyukai buku-buku agama dan politik justru saat manjadi mahasiswa. Karena akses memiliki buku agama dan politik saat ini sangat mudah, apalagi saya kuliah dipenguruan tinggi Islam. 

Intinya memiliki bacaan atau literasi itu sangat penting. Kualitas diri kita atau cerminan kita juga tergantung dengan bacaan kita. Salam Literasi.  


Amriadi Al Masjidiy (Pemred Majalah Anak Sahabat)


Bekasi, 26 November 2020


SHARE THIS

Author:

Penulis merupakan penulis bebas dan juga penggiat blockchain dan Cryptocurrency. Terima Kasih sudah berkunjung ke Blog Saya, bebas copy paste asal mencantumkan sumber sebagaimana mestinya.

0 comments: