Monday, August 3, 2015

Kosep Tuhan Agama Resmi di Indonesia

Oleh: Amriadi Al Masjidiy
Kata Pengantar
Penjelasan mengenai konsep ketuhanan di era informasi dan teknologi sekarang memang sangat dibutuhkan. Terutama bagi yang terjun kedalam bidang pemikiran. Kerena sekarang ada golongan yang ingin menciptakan agama baru dan membunuh konsep ketuahan agama-agama lain. Sehingga melahirkan konsep agama yang keragu-raguan, inilah yang dinamakan dengan pluralism agama.

Kaum pluralis berpandangan bahwa agama adalah ekspresi budaya yang relatif sifatnya. Maka tak masalah menurut mereka jika umat Islam sesekali menyebut Tuhannya dengan Yahweh, God,Lord, atau Yesua. Toh muaranya tetap pada satu Tuhan. Sedangkan di kalangan penganut agama Kristen, terjadi perdebatan mengenai sebutan untuk Tuhan. Seperti kata “Yesus” diubah menjadi “Yesua” yang dilakukan oleh kelompok Kristen yang menyebut dirinya “Jaringan Gereja-gereja Pengagung Nama Yahweh”.2 Kelompok ini juga mengubah kata “Tuhan” menjadi “Yahwe”.
Dalam agama Yahudi ada sebutan Lata, Uzza, Hubal, disamping sebutan untuk Allah sendiri. Gejala ‘spekulasi teologis’ semacam ini terjadi oleh sebab tak ada sumber yang otentik tentang kebenaran konsep dan nama Tuhan. Yang terjadi adalah dugaan-dugaan yang tak menghasilkan keyakinan sama sekali.
Bagi umat Islam, penyebutan nama Tuhan yang bersifat spekulatif tentu sangat bermasalah. Sebab, hal ini bisa mengaburkan konsep tauhid Islam. Penyebutan kata “Allah” di dalam Al-Qur’an menandakan bahwa penyematan nama untuk Dzat Yang Maha Kuasa haruslah bersumber dari Allah sendiri dengan sifat-sifat yang sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an.
Dengan berdasar pada sumber yang otentik akan mencegah spekulasi akal. Konsep Tuhan dalam Islam juga menegaskan bahwa jalan menuju Tuhan hanya satu, yakni Islam. Jika tidak maka tak mungkin ada do’a, ihdinash shirathal mustaqim (Tunjukilah kami jalan yang lurus)

Bab 1
 
Pendahuluan
Sebenar Allah l. Hanya menurunkan kepada manusia satu agama saja. Namun manusia telah menjadi kebudayaan, adat istiadat dan juga filsafat menjadi bagian dari agama. Maka dari itu muncullah agama-agama baru. Disisi lain sebuah agama juga merupakan hasil kontruksi dari perjalanan sejarah agama yang murni dari Allah, kemudian diubah menjadi agama yang baru. Agama yang Allah turunkan kepada manusia adalah agama tauhid, dalam hal ini Allah l. Berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiyaa’ ayat 92:
¨bÎ) ÿ¾ÍnÉ»yd öNä3çF¨Bé& Zp¨Bé& ZoyÏmºur O$tRr&ur öNà6š/u Âcrßç7ôã$$sù
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu[1] dan aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah aku.”
Maka dari itu seharusnya manusia hanya mengikuti satu agama saja yakni agama Tauhid, tentunya agama tauhid adalah agama Islam. Islam merupakan asal kata dari  Aslama-yaslimu-islam yang artinya berserah diri dan kedamaian. Lebih lanjut Islam berarti agama yang damai dengan berserah diri kepada Allah yang maha Kuasa, dan orang yang menganut agama Islam disebut muslim.[2]
            Islam merupakan agama yang diridhai oleh Allah l. Dalam hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 19 sebagai jaminan mutu untuk kita renungi. Tidak ada agama lain yang memberikan jaminan mutu selain Islam. Karena memang benar agama Islam berasal dari tuhan sang pencipta segala makhluk. Dalam hal ini dengan gamblang Allah l. Memberitahukan kepada kita dalam Al-Qur’an yang mulia, yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 85.
`tBur Æ÷tGö;tƒ uŽöxî ÄN»n=óM}$# $YYƒÏŠ `n=sù Ÿ@t6ø)ムçm÷YÏB uqèdur Îû ÍotÅzFy$# z`ÏB z`ƒÌÅ¡»yø9$# ÇÑÎÈ  
“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.”
Ditolak karena menyesihi kehendak Allah l. Sebagus dan sedahsyat apapun amalan didunia tetap ke neraka janhanam dengan azab yang pedih. Maka dari itu Islam merupakan satu-satunya agama yang diterima disisi Allah l.
Islam merupakan agama yang terlengkap dengan segala perintah dan larangan. Hal ini memang seharusnya demikian, karena kita manusia sebagai ciptaan Allah l. Yang tentunya memiliki aturan dan petunjuk yang harus kita jalani didunia ini. Dalam hal ini Allah l. Berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 2.
y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu ¡ ÏmÏù ¡ Wèd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ  
“Kitab[3] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.[4]
Dari ayat diatas Allah l jelas menginformasikan kepada kita bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman pentujuk yang tidak perlu diragukan lagi. Kenapa Al-Qur’an tidak perlu diragukan lagi? Dalam menjawab pertanyaan Allah l. Memberikan jawabannya dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 23-24
bÎ)ur öNçFZà2 Îû 5=÷ƒu $£JÏiB $uZø9¨tR 4n?tã $tRÏö7tã (#qè?ù'sù ;ouqÝ¡Î/ `ÏiB ¾Ï&Î#÷VÏiB (#qãã÷Š$#ur Nä.uä!#yygä© `ÏiB Èbrߊ «!$# cÎ) öNçFZä. tûüÏ%Ï»|¹ ÇËÌÈ   bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? `s9ur (#qè=yèøÿs? (#qà)¨?$$sù u$¨Z9$# ÓÉL©9$# $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou$yfÅsø9$#ur ( ôN£Ïãé& tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ÇËÍÈ  
“dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[5] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
            Dari ayat diatas jelas merupakan Al-Qur’an menantang bagi yang meragukan Al-Qur’an. Kalau anda mengajak adu jotos satu lawan satu itu fair. Namun Al-Qur’an tidak fair, Al-Qur’an mengatakan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah. Jika kamu yang benar. Tantangan ini sampai sekarang belum ada yang mampu untuk menandinginya. Maka dalam hal ini terimalah Islam sebagai agama tauhid yang telah Allah sempurnakannya, sebagaimana firmannya dalam Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 3. Yang artinya: “Pada hari ini telah ku sempurnakan untukmu     agamamu, dan telah ku cukupkan kepadamu nikmatku, dan telah ku ridhai Islam itu jadi agamamu.” Dengan demikian tuntas sudah, agama yang berhak kita terima adalah agama Islam yang benar datangnya dari Allah l. Tinggal kita sami’na wa atha’na. Dengar & laksanakan!. Maka tidak ada alasan selain Islam adalah agama yang benar dan Allah memaksakan kita untuk menerimanya.
***









Bab 2
 
Konsep Tuhan
Dalam Islam
Dalam konsep Islam, Tuhan diyakini sebagai Zat Maha Tinggi Yang Nyata dan Esa, Pencipta Yang Maha Kuat dan Maha Tahu, Yang Abadi, Penentu Takdir, dan Hakim bagi semesta alam. Islam menitik beratkan konseptualisasi Tuhan sebagai Yang Tunggal dan Maha Kuasa (tauhid). Dia itu wahid dan Esa (ahad), Maha Pengasih dan Maha Kuasa. Menurut al-Qur’an terdapat 99 Nama Allah (asma’ul husna artinya: “nama-nama yang paling baik”) yang mengingatkan setiap sifat-sifat Tuhan yang berbeda. Semua nama tersebut mengacu pada Allah, nama Tuhan Maha Tinggi dan Maha Luas. Di antara 99 nama Allah tersebut, yang paling terkenal dan paling sering digunakan adalah “Maha Pengasih” (ar-rahman) dan “Maha Penyayang” (ar-rahim).
Dalam banyak ayat Allah l. Berfirman bahwa tuhan itu maha esa. Misalnya dalam surat Al-Qur’an surat Al-Nisa ayat 171:
إِنَّمَا اللَّهُ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Yang artinya: “Ssungguhnya Allah ita adalah tuhan yang maha esa” dalam Ayat lain Allah juga berfirman:
ö/ä3ßg»s9Î)ur ×m»s9Î) ÓÏnºur ( Hw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ß`»yJôm§9$# ÞOŠÏm§9$# ÇÊÏÌÈ  
“dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
Selanjutnya dalam Al-Qur’an suah An-Nahl ayat 51 Allah l lebih mempertegaskan lagi untuk tidak menyembah selainnya.
* tA$s%ur ª!$# Ÿw (#ÿräÏ­Gs? Èû÷üyg»s9Î) Èû÷üuZøO$# ( $yJ¯RÎ) uqèd ×m»s9Î) ÓÏnºur ( }»­ƒÎ*sù Èbqç6ydö$$sù ÇÎÊÈ  
Allah berfirman: "Janganlah kamu menyembah dua Tuhan; Sesungguhnya Dialah Tuhan yang Maha Esa, Maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut"
Dan masih banyak ayat serupa dengan ini, misalnya sebutkan saja dalam surat Al-Ikhlas ayat 1-4. ( Q.S. Al-Baqarah 2 : 133), (Q.S. Al-Maaidah 5 : 73), (Q.S. Al-An’aam 6 : 19), (Q.S. At-Taubah 9 : 31), ( Q.S. Yusuf 12 : 39 ), (Q.S. Ar Ra’d 13 : 16 ), (Q.S. Ibrahim 14 : 48), (Q.S. Ibrahim 14 : 52), (Q.S. An Nahl 16 : 22), (Q.S. Al-Kahfi 18 : 110), (Q.S. Al-Anbiyaa 21 : 108), (Q.S. Al-Hajj 22 : 34). Ayat ini semua menjelaskan tentang keesaan Allah l.
Dalam mendefinisikan makna Al-Ilah,Ibnu Taimiyah mengunggkapkan bahwa tuhan yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri di hadapannya, takut, dan mengharapkannya, kepadanya tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa, dan bertawakal kepadanya untuk kemaslahatan diri, meminta perlindungan dari padanya, dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya.
Konsep Tuhan dalam Islam telah memperlihatkan pola pikir yang berbeda dengan konsep Tuhan dalam agama lain seperti Kristen, Yahudi, Budha, Hindu maupun dengan konsep Tuhan dalam agama lainnya. Kalangan ini sama-sama menghadapi perbedaan konsep teologis dengan konsep teologis dalam Islam. Kalangan non muslim membangun konsep Tuhan di atas landasan yang berbeda, sedangkan Islam membangun konsep ketuhanan dengan keyakinan yang pasti. Untuk lebih jelasnya lagi kita lihat beberapa konsep tuhan dalam agama-agama lain sebagai perbandingannya.
***















Bab 3
 
Konsep Tuhan
Agama Nasrani
Agama Nashrani atau yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan agama Kristen adalah salah satu agama yang mengaku ngaku monotheisme, namun dalam kenyataannya ajaran Kristen adalah polytheisme, yaitu ketika kita melihat konsep aqidah mereka yang dikenal dengan Trinitas atau Tritunggal.
Agama Katholik adalah agama Kristen yang paling tua. Katholik sendiri berarti orang-orang umum, karena mereka mengaku-aku sebagai induk segala gereja dan penyebar missi satu-satunya di dunia. Disebut pu la dengan Gereja Barat atau Geraja Latin, karena mereka mendominasi Eropa Barat, yaitu mulai dari Italia, Belgia, Prancis, Spanyol, Portugal dan lain-lainnya. Disebut juga sebagai Gereja Petrus atau Kerasulan karena mereka mengaku-aku bahwa yang membangun agama mereka adalah Petrus, murid Nabi ‘Isa yang paling senior.[6]
Agama Katholik meyakini bahwa Roh Qudus tumbuh dari Tuhan Bapa dan Anak secara bersamaan. Mereka juga berkeyakinan bahwa Tu-han Bapa dan Tuhan Anak memiliki kesempurnaan yang sama. Bahkan mereka meyakini bahwa Yesus atau Tuhan Anak ikut bersama-sama dengan Tuhan Bapa mencipta langit dan bumi.
Adapun agama Ortodox yang disebut pula sebagai Gereja Timur atau Gereja Yunani adalah agama Kristen yang menyempal dari Kristen Katholik pada tahun 1054 M. Agama Ortodox meyakini bahwa Roh Qudus hanya tumbuh dari Tuhan Bapa saja, dan mereka meyakini bahwa Tuhan Bapa lebih utama daripada Tuhan Anak.
Sedangkan agama Protestan adalah pengikut Martin Luther yang menyempal dari agama Katholik karena menganggap banyak hal yang tidak masuk akal dari agama Katholik. Disebut Protestan karena sikap mereka yang memprotes Gereja Lama atau kaum Katholik. Mereka menye-but dirinya dengan Gereja Penginjil karena pengakuan mereka yang ha-nya mau mengikuti Injil semata. Terkadang mereka disebut dengan Kris-ten saja. Agama Protestan di antara agama yang melarang membuat patung dan gambar untuk disembah. Walaupun demikian, mereka tetap meyakini ajaran trinitas yang intinya adalah Tuhan itu satu tetapi terdiri dari tiga oknum.[7]
Secara garis besarnya, agama Kristen meyakini bahwa Nabi ‘Isa atau Yesus adalah Anak Tuhan. Oleh karena itu murid-murid Yesus mereka yakini sebagai Rasul. Bahkan Saulus atau Paulus atau Bulus, yaitu musuh besar Nabi ‘Isa ? yang sangat bernafsu menangkap dan menyalib Nabi ‘Isa serta banyak menyiksa dan menangkapi para pengikut Nabi ‘Isa juga ikut diyakini sebagai Rasul.
Hal ini karena tipu dayanya yang mengatakan kepada orang-orang Nashrani bahwa dia mendapat wahyu dari Yesus untuk meneruskan ajarannya dan Yesus menamainya dengan Bulus. Padahal tidak ada seorang nabi pun yang memiliki masa lalu yang kelam, yaitu mantan musuh Allah dan Rasul-Nya. Tipu daya Saulus semakin sempurna dengan menyusupkan orang-orangnya ke dalam deretan rohaniawan Kristen, seperti Lukas dan lain-lainnya. Melalui orang-orangnya ini akhirnya Saulus berhasil merubah Injil dan memasukkan faham trinitas ke tengah-tengah umat Nashrani.
Dalam sejarah ketuhanan kaum Nashrani, penuhanan Yesus baru dilakukan pada akhir Abad II Masehi. Kemudian pada Konsili di Necea tahun 325 Tuhan Anak disejajarkan dengan Tuhan Bapa. Selanjutnya pa- da Abad III Roh Qudus dipertuhankan. Pada konsili di Ephese Bunda Ma ria disejajarkan dengan Trinitas oleh penganut Katholik. Begitulah sejarah ketuhanan dalam agama Kristen.[8]
Islam dengan tegas menolak kepercayaan Kristen bahwa Tuhan itu tiga pribadi dalam satu hakekat (lihat Tritunggal). Dalam konsepsi Islam tentang Tuhan, tidak ada kesetaraan antara Tuhan dan ciptaan. Kehadiran Tuhan dipercaya ada dimanapun, dan tidak menjelma sebagai siapapun atau apapun. Kristen Barat merasa Islam sebagai agama kafir selama Perang Salib pertama dan kedua. Muhammad dipandang sebagai setan atau tuhan palsu yang disembah bersama Apollyon dan Termangant dalam trinitas yang tidak suci. Pandangan tradisional Kristen adalah bahwa Nabi Muhammad n sama dengan Tuhannya Yesus.
Dalam Islam “Al-Qur’an dengan tegas dan lugas mengatakan bahwa: tiada Tuhan selain Allah, titik. Konsep tauhid dalam Al-Qur’an tidak pernah menyatakan bahwa Tuhan Pencipta itu adalah Tuhan dari segala tuhan. Sedangkan dalam agama-agama lainnya keesaan Tuhan itu kadang tidak dinyatakan secara konsisten.”. Perbedaan agama Yahudi dan Nasrani juga dengan jelas dinyatakan dalam Al-Qur’an, “Dan orang-orang Yahudi serta Nasrani mengatakan: ‘Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya.” (Q.S. Al-Maidah: 18). Yang dimaksud dengan kalimat “Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-Nya”, menurut Imam Ibnu Al-Jauzi adalah Uzair dan Isa a.s
Ludovico Marracci (1734), penerima pengakuan dosa Paus Innosensius XI, menyatakan: Muhammad dan pengikutnya yang menganggap ortodoks, telah dan melanjutkan untuk memiliki gagasan Tuhan yang asli dan logis dan sifat-sifat-Nya (selalu mengecualikan dan menolak Trituggal), muncul sangat jelas dari Qur’an itu sendiri dan seluruh kepercayaan akan Tuhan Muhammad, sehingga akan membutuhkan banyak waktu untuk menyangkal yang beranggapan Tuhan Muhammad berbeda dengan Tuhan sejati.[9]
Banyak pesan-pesan dalam Perjanjian Lama mengacu pada kasih Tuhan. Tema sentral dalam Perjanjian Baru adalah kasih Tuhan dalam perantaraan Yesus. Dalam Islam, kasih Tuhan muncul dalam seluruh tanda-tanda dan penciptaan Bumi dimana manusia dapat hidup dalam kehidupan yang layak.[10]
“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa; Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. al-Baqarah :21-22)
***
Konsep Tuhan

AgamaHindu
Konsep tuhan dalam agama Hindu tidak diketahui dengan jelas bagaimana sebenarnya konsep tuhan yang harus di sembah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh para sarjana, dalam tubuh Agama Hindu terdapat beberapa konsep ketuhanan, antara lain  henoteisme, panteisme , monisme, monoteisme, politeisme, dan ateisme.
Menurut Sami bin Abdullah Al Maghlouth, Tuhan agama Hindu memiliki konsep monoteisme tetapi hal ini tidak ada kejelasan dalam agama Hindu. Kemudian ada konsep tuhan Politeisme yaitu mereka berpendapat seluruh alam jagat raya ini adalah tuhan, seperti matahari, bulan, batu pohon, ular dan lain sebagainya adalah tuhan agama Hindu. Pada abad ke 9 sebelum masehi para pendeta agama Hindu berpendapat konsep tuhan dalam agamanya adalah Trimurti yaitu kekuatan Dewa Bramana sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa yang akan melebur dunia beserta isinya.[11]
Menurut orang awam yang tidak mengetahui isi kitab suci atau sejarah agamanya akan mengatakan tuhan itu ada 10, 100, 1000 dan seterusnya, namun bagi mereka kaum terpelajar yang mengetahui isi kitab suci agamanya akan mengatakan bahwa tuhan dalam agama Hindu hanya satu.[12] Ada pun konsep tuhan menurut kitab suci agama Hindu disebutkan sebagai berikut: Dalam mantra Yajur Veda XL. 17 “Yo Savaditye Purassa So Savaham.” Artinya Kekuatan yang menjadi matahari bersinar itu adalah aku yang tunggal. “Ekam Eva Adwityam Tasmad Asatah Sajjayata.” (Chadogya Upanisad VI. 21) artinya: Ia Maha Esa, Tidak ada duanya, dari padanyalah semua makhluk tercipta.[13]
Lebih lanjut dalam kitab Upanishad konsep tuhan disebutkan dalam Chandogya Upanishad Ch. 6 Sec. 2 V. 1 tuhan hanya ada satu. Dalam  Shvetashatara Upanishad Ch. 6 V. 9 menyatakan bahwa Tuhan itu tidak punya ibu dan bapak, Dia tidak punya tuan dan pelindung.  Sementara dalam Shvetashatara Upanishad Ch. 4 v. 19 menyatakan bahwa Tuhan itu tidak ada sesuatupun yang menyerupai Dia. Dalam Shvetashatara Upanishad Ch. 4 v. 19 menyatakan bahwa Tuhan tidak bisa dilihat dan Tidak ada orang yang mampu melihat dengan mata. Dalam kitab suci Hindu yang paling sering dibaca orang yaitu Bhagavad Gita yaitu Bhagavat Gita Ch. 10 V. 3 menyatakan bahwa Dia tidak dilahirkan, tak ada permulaan, Tuhan seru sekalian alam.[14]
Dalam kitab utama Hindu yaitu Veda atau Weda disebutkan dalam Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yang berhak disembah. Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci. Yajurveda Ch. 40 V. 9 menyatakan bahwa “Andhatma pravishanti” artinya memasuki, dan “assambhuti” artinya benda/alam seperti api, air, dan udara. Maksudnya mereka yg menyembah benda/alam seperti api, air, udara, telah masuk kedalam kegelapan. Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar. Pada Rigveda yang dianggap paling suci, pada Rigveda Bk. 1 Hymn 64. V. 46 dinyatakan : Tuhan itu Maha Esa, panggillah Dia dengan berbagai nama. Di Islam juga ada 99 nama untuk Tuhan yang satu. Juga diulangi pada Rigveda Bk. 10 Hymn 114 V. 5 menyatakan Tuhan itu satu tapi Dia disebut dengan nama yang bermacam-macam. [15]
Pada Rigveda Bk. 2 Hymn 1 menyatakan bahwa ada 33 nama yang ditujukan pada Tuhan, diantaranya :
G  Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 : Brahama (pencipta), bahasa arabnya Choliq. Umat muslim tidak keberatan kalau Allah dipanggil dengan Khalik atau Creator, atau Brahama. Tapi kalau orang menyebutkan Brahama itu adalah Tuhan yang berkepala 4 dengan mahkota, umat muslim sangat tidak setuju.
G  Shvetashvatara Upanishad Ch. 4 V. 19 menyatakan tidak ada satu makhlukpun yang menyerupai Tuhan.
G  Rigveda Bk. 2 Hymn 1 V. 3 : Vishnu (Wishnu) artinya Sustainer (pemelihara alam), yang memberi rizki. Bahasa arabnya adalah “Rabb”. Orang muslim tidak keberatan Allah disebut Rabb, Vishnu, Sustainer, Cheriser. Yang jadi masalah adalah Vishnu adalah Tuhan yang punya 4 tangan, tiap tangan memegang cakra, tangan kirinya memegang rumah kerang, menaiki seekor burung garuda sambil bersandar pada gulungan ular. Umat muslim tidak bisa menerima itu.
G  Apalagi Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan.
G  Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yang satu.
G  Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”
G  Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yang kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.[16]
Dalam Veda, Istilah tuhan yang maha esa disebut dewa atau sat (kebenaran mutlak). Kata dewa mengandung dua makna yaitu tuhan yang maha esa dan sebagai makhluk tertinggi ciptaanya. Dijelaskan bahwa seluruh dewa berjumlah 33 yang menguasai dunia. Seluruh dewa terdiri 8 wasu (asta wasu), 11 Ludra (Ekadasaludra), 12 Aditya (Dwadasatya) serta Indra dan Prajapati.[17]
Delapan Dewa Asta Wasu disebutkan sebagai berikut:
1.      Dewa Api yaitu Agni atau Anala
2.      Dewa Bumi yaitu Prthiwi atau Dhawa
3.      Dewa Angin yaitu Wahyu atau Anila
4.      Dewa Langit yaitu Dyaus atau Pratyusa
5.      Dewa Matahari yaitu  Surya atau Pratyusa
6.      Dewa Antariksa yaitu Sawitri atau Aha
7.      Dewa Bulan yaitu Chandra atau Soma
8.      Dewa Konstlasi Planet yaitu Druha atau Duwa[18]
Sepuluh Dewa Ekadasaludra disebutkan sebagai berikut:
1.      Aja Ekapat
2.      Ahirbudhnya
3.      Wirupaksa
4.      Jayanta
5.      Bahurupa
6.      Aparajita
7.      Savitra
8.      Tryambaka
9.      Waiwaswata
10.  Hara[19]
Duabelas Dewa Dwadasaditya yang terdiri enam pasang dewa yang terbagi dua kelompok yaitu:
a.       Kelompok Dewa Transenden:
1.      Mitra (Sahabat)
2.      Aryaman (mengalahkan musuh)
3.      Bhaga (pemurah)
4.      Twastra (pembentuk)
5.      Pusan (Energi)
6.      Wiwaswat (gemerlapan)
b.      Kelompok Dewa Immanen:
1.      Waruna (langit)
2.      Daksa (Ahli)
3.      Amsa (yang bebas)
4.      Sawitri (pelebur)
5.      Sukra (kekuatan)
6.      Wisnu (yang meresapi)[20]
Dalam Rg Veda X. 36.14 disebutkan dewa-dewa yang datang dari berbagai penjuru dunia yang dikenal dengan Astadikpalaka atau Dewa Dewata Nawa Sanga dengan Siwa sebagai penguasa tengah. Dewata Nawa Sanga terdiri dari:
1.      Utara               : Kuwera
2.      Timur               : Indra
3.      Selatan            : Yama
4.      Barat               : Waruna
5.      Timur Laut      : Isana
6.      Tenggara         : Agni
7.      Barat Daya      : Surya
8.      Barat Laut       :Wayu[21]
Dari gambaran konsep tuhan diatas maka dapat kita simpulkan bahwa konsep agama Hindu memiliki kontradiksi antara satu dengan yang lain. Disuatu sisi konsep tuhan agama Hindu Monoteisme namun disisi lain mereka memiliki banyak dewa yang harus disembah. Maka tidak heran jika kita bertanya kepada orang Hindu awam percaya berapa banyak Tuhan? Beberapa orang mungkin mengatakan 3, beberapa orang mungkin mengatakan 100, beberapa orang mungkin mengatakan 1.000, sementara yang lain mungkin mengatakan 33 crores, 330 juta. Tetapi jika Anda bertanya kepada seorang Hindu terpelajar yang berpengalaman dengan tulisan suci Hindu, dia akan memberitahu Anda bahwa dalam Hinduisme Anda harus percaya dan menyembah hanya kepada satu Tuhan.[22]
Tapi Hindu awam, ia percaya dalam filsafat yang dikenal sebagai panteisme, segala sesuatu adalah Tuhan. Hindu yang awam percaya bahwa pohon adalah Tuhan, matahari adalah Tuhan, bulan adalah Tuhan, manusia adalah Tuhan, ular adalah Tuhan. Namun apa yang kami Muslim percayai adalah segalanya adalah milik Tuhan, segala sesuatu milik Tuhan (GOD), 'G' 'O' 'D' dengan 's' tanda kutip (akhiran S tanda kepemilikan); pohon milik Tuhan, matahari milik Tuhan, bulan milik Tuhan, manusia menjadi milik Tuhan, ular itu milik Tuhan. Jadi perbedaan utama antara Hindu awam dan Muslim awam adalah bahwa Hindu awam mengatakan segala sesuatu adalah Tuhan, kita Muslim mengatakan segalanya adalah milik Tuhan.[23]
***

Bab 5
 
Konsep Ketuhanan
Agama Budha
Perlu ditekankan bahwa Buddha bukan Tuhan. Konsep ketuhanan dalam agama Buddha berbeda dengan konsep dalam agama Samawi dimana alam semesta diciptakan oleh Tuhan dan tujuan akhir dari hidup manusia adalah kembali ke sorga ciptaan Tuhan yang kekal.
“Ketahuilah para Bhikkhu bahwa ada sesuatu Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak. Duhai para Bhikkhu, apabila Tidak ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Diciptakan, Yang Mutlak, maka tidak akan mungkin kita dapat bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi para Bhikkhu, karena ada Yang Tidak Dilahirkan, Yang Tidak Menjelma, Yang Tidak Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.”[24]
Ungkapan di atas adalah pernyataan dari Sang Buddha yang terdapat dalam Sutta Pitaka, Udana VIII : 3, yang merupakan konsep Ketuhanan Yang Mahaesa dalam agama Buddha. Ketuhanan Yang Mahaesa dalam bahasa Pali adalah Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam yang artinya “Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak”. Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asankhata) maka manusia yang berkondisi (sankhata) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan (samsara) dengan cara bermeditasi.[25]
Dengan membaca konsep Ketuhanan Yang Mahaesa ini, kita dapat melihat bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah berlainan dengan konsep Ketuhanan yang diyakini oleh agama-agama lain. Perbedaan konsep tentang Ketuhanan ini perlu ditekankan di sini, sebab masih banyak umat Buddha yang mencampur-adukkan konsep Ketuhanan menurut agama Buddha dengan konsep Ketuhanan menurut agama-agama lain sehingga banyak umat Buddha yang menganggap bahwa konsep Ketuhanan dalam agama Buddha adalah sama dengan konsep Ketuhanan dalam agama-agama lain.[26]
Bila kita mempelajari ajaran agama Buddha seperti yang terdapat dalam kitab suci Tipitaka, maka bukan hanya konsep Ketuhanan yang berbeda dengan konsep Ketuhanan dalam agama lain, tetapi banyak konsep lain yang tidak sama pula. Konsep-konsep agama Buddha yang berlainan dengan konsep-konsep dari agama lain antara lain adalah konsep-konsep tentang alam semesta, terbentuknya Bumi dan manusia, kehidupan manusia di alam semesta, kiamat dan Keselamatan atau Kebebasan.
Di dalam agama Buddha tujuan akhir hidup manusia adalah mencapai kebuddhaan (anuttara samyak sambodhi) atau pencerahan sejati dimana batin manusia tidak perlu lagi mengalami proses tumimbal lahir. Untuk mencapai itu pertolongan dan bantuan pihak lain tidak ada pengaruhnya. Tidak ada dewa – dewi yang dapat membantu, hanya dengan usaha sendirilah kebuddhaan dapat dicapai. Buddha hanya merupakan contoh, juru pandu, dan guru bagi makhluk yang perlu melalui jalan mereka sendiri, mencapai pencerahan rohani, dan melihat kebenaran & realitas sebenar-benarnya.[27]


Konsep Tuhan
Agama Konghucu
Sistem Ketuhanan Agama Konghucu Ajaran-ajaran dalam kitab Su Si tidak begitu banyak memu

 
at hal-hal yang berkaitan dengan konsep metafisika. Ajaran metafisika justru banyak bersumber pada kitab klasik, kitab yang sudah ada sebelum Khongcu lahir. Yang dimaksud dengan ajaran metafisika di sini ialah ajaran yang mencakup konsep tentang Tuhan, manusia, alam semesta dan konsep tantang hidup sesudah mati.[28] Tuhan dalam ajaran Konghucu sering disebut Thian atau Tee, yang artinya Tuhan Yang Maha Besar atau Tuhan Yang Maha Menguasai Langit dan Bumi.
Di dalam kitab Ngo King biasa diberi kata sifat sebagai berikut:
1.      Siang Thian - artinya Thian Yang Maha Tinggi
2.      Hoo Thian - artinya Thian Yang Maha Besar
3.      Chong Thian - artinya Thian Yang Maha Suci
4.      Bien Thian  artinya Thian Yang Maha Pengasih
5.      Hong Thian artinya Yang Maha Kuasa Maha Pencipta
6.      Siang Tee Tee Yang Menciptakan Alam Semesta.[29]
Kongcu sendiri percaya adanya Thian yang selalu harus dihormati dan dipuja karena Dialah yang menjaga alam semesta. Oleh karena itu, manusia harus melakukan upacara-upacara keagamaan sederhana dan sekhidmat mungkin agara mendapatkan berkah dari Thian. Dalama kaitan ini, umat manusia harus mencermati dan meneladani tingkah laku orang tua, karena menurut ajaran Konghucu orang tua adalah wakil Thian.[30] Dengan adanya kepercayaan kepada Thian yang oleh pemeluknya diterjemahkan sebagai Tuhan Yang Maha Esa, Konghucu dapat dikelompokkan ke dalam kepercayaan monotheis. Kepercayaan ini bersifat dogmatik, yang diyakini umatnya berdasarkan wahyu (agama langit).[31]
Selain kepercayaan terhadap Thian dalam ajaran Konghucu terdapat juga kepercayaan terhadap para malaikat (dewa-dewa), roh-roh suci dan para nabi. Para penganutnya perlu melakukan penghormatan, sesajian dan peribadatan mereka.[32] Soal Ketuhanan, soal hari kiamat dan akhirat, soal hidup sesudah mati tidak pernah disinggung-singgung. Yang dimuliakan dan dipuja oleh mereka adalah alam (termasuk roh-roh, dewa-dewa, gunung, sungai-sungai, angin), leluhur (termasuk kebaktian teman), dan langit (ahli-ahli sejarah agama menganggap bahwa dewa langit adalah yang tertua).[33]
Kong Hu Cu atau Konfusius, seorang ahli filsafat Cina yang terkenal sebagai orang pertama pengembang sistem memadukan alam pikiran dan kepercayaan orang Cina yang mendasar, dalam mengajarkan ajaran-ajarannya, ia tidak suka mengakaitkan paham dengan paham ketuhanan. Ia menolak membicatakan tentang akhirat dan soal-soal yang bersifat metafisika, ia hanya seorang filosof sekuler yang mempersoalkan moral kekuasaan dan akhlak pribadi manusia yang baik. Namun dikarenakan ajaran-ajaran lebih banyak mengarah pada kesusilaan dan mendekati ajaran keagamaan maka ia sering digolongkan dan dianggap sebagai pembawa agama.[34] Dapat dikatakan, Kong Hu Cu selalu menghindari pembicaraan tentang metafisika, ketuhanan, jiwa, dan berbagai hal yang ajaib. Namun ia tidak meragukan tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa yang dianut masyarakatnya.
Bahkan ia lebih meneguhkan pemujaan terhadap leluhur, dengan kesetiaan kepada sanak keluarga dan penghormatan terhadap orang tua. Ia mengajarkan betapa penting artinya penghormatan dan ketaatan istri terhadap suami, rakyat terhadap penguasanya. Menurut Kong Hu Cu hidup ini ada dua nilai, yaitu Yen dan Li. Yen artinya cinta atau keramahtamahan dalam hubungan dengan seseorang, sedangkan Li artinya keserangkaian antara perilaku, ibadah, adat istiadat, tata krama dan sopan santun.[35] Kong Hu Cu mengatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi tempat orang besar, yaitu kagum terhadap perintah Tuhan, kagum terhadap orang-orang penting, dan kagum terhadap kata-kata orang bijaksana. Orang yang tidak kagum terhadap tiga hal tersebut atau malah tidak berperilaku sopan dan menghina kata-kata bijaksana adalah orang-orang yang picik.[36]
Demikian, Ru Jiao atau agama Konghucu adalah agama monoteis, percaya hanya pada satu Tuhan, yang biasa disebut sebagai Tian, Tuhan Yang Maha Esa atau Shangdi (Tuhan Yang Maha Kuasa). Tuhan dalam konsep Konghucu tidak dapat diperkirakan dan ditetapkan, namun tiada satu wujud pun yang tanpa Dia. Dilihat tiada nampak, didengar tidak terdengar, namun dapat dirasakan oleh orang beriman.[37] Dalam Yijing dijelaskan bahwa Tuhan itu Maha Sempurna dan Maha Pencipta (Yuan); Maha Menjalin, Maha Menembusi dan Maha Luhur (Heng) ; Maha Pemurah, Maha Pemberi Rahmat dan Maha Adil (Li), dan Maha Abadi Hukumnya (Zhen).[38]
Agama Konghucu tidak pernah mempersoalkan tentang Tuhan, tentang kiamat dan akhirat, tentang hidup sesudah mati daln lain-lain. Sedangkan agama Islam membicarakannya, bahkan soal-soal itulah yang harus diutamakan dan diyakini oleh tiap-tipa pemeluknya. Rukun Iman yang enam yaitu: percaya kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Malaikat-Nya, percaya kepada Kitab-Kitab-Nya, percaya kepada Rasul-Rasul-Nya, percaya kepada hari kiamat, percaya kepada Qodho dan Qadar. Kesemuanya harus diyakini betul-betul di dalam hati, sebelum melaksanakan syariat-syariat bersifat lahiriah misalnya shalat, puasa, dan lain-lain.
***

Bab 7
 
Penutup

Dalam pembahasan konsep tuhan agama ini. Patut kita renungi bersama mana konsep ketuhanan yang rasional. Tuhan dalam Islam jelas tidak diciptakan oleh manusia dan bahkan tidak pula diangkat oleh manusia. Oleh kerena itu Islam adalah agama yang memiliki konsep tuhan yang lebih masuk akal ketimbang agama yang lain.
            Dalam pembahasan seblumnya yaitu konsep agama-agama yang diakui di Indonesia ini sudah terselesaikan. Adapun mengenai agama Kristen Katolik dan Prostestan itu beda, namun konsep tuhan mereka tetap sama yaitu memiliki tuhan yang tiga. Begitu pula hal nya dengan agama Hindu yang ada di Indonesia. Beda Hindu Bali dengan Hindu lain. Namun pada hakikatnya mereka memiliki tuhan yang lebih dari tiga dan bahkan semua makhluk disebut tuhan.
Wallahu a’lam bissawab…..

Bekasi, 03 Agustus 2015
Daftar Pustaka


Ahmadi, Abu, Perbandingan Agama, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991, cet. XVII)
Al Maghlouth, Sami bin Abdullah, Athlas Al-Adyan, terj. Syauqi Abu Khalil, Jakarta: Almahira, 2011
Bunce, William K. 1995. Religion in Japan (Buddhism, Shinto, Christianity). Charles E. Tuttle Company: Rutland
Djam’annuri (Ed.), Agama Kita, Perspektif Sejarah Agama-Agama (Sebuah Pengantar)
Hadikusuma, Hilman, Antropologi Agama I, (Bandung: PT Citra Adtya Bakti, 1993, cet. I)
Nahrawi, Nahar, Memahami Khonghucu Sebagai Agama, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003)

7.      http://agungsukses.wordpress.com/2008/07/24/konsep-ketuhanan-dalam-islam/



[1] Maksudnya: sama dalam pokok-pokok kepercayaan dan pokok-pokok Syari'at.
[2] H Kafrawi Ridwan (Ed.). “Filsafat” Ensiklopedi Islam, 2, hlm. 246
[3] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[4] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
[5] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.
[8] Bunce, William K. 1995. Religion in Japan (Buddhism, Shinto, Christianity). Charles E. Tuttle Company: Rutland
[9] http://tanhadi.blogspot.com/2012/01/bab-i-tuhan-dalam-pandangan-agama.html
[10] http://agungsukses.wordpress.com/2008/07/24/konsep-ketuhanan-dalam-islam/
[11] Sami bin Abdullah Al Maghlouth, Athlas Al-Adyan, terj. Syauqi Abu Khalil, Jakarta: Almahira, 2011, hlm.484
[12] Zakir Abdulkarim Naik, Similarities Between Hinduism And Islam, (Vidio)
[13] Djam’annuri (Ed.), Agama Kita, Perspektif Sejarah Agama-Agama (Sebuah Pengantar), hlm. 47
[14] Dr. Zakir Abdulkarim Naik dalam dialog, Dr. Zakir Naik dengan Sri Sri Ravi Shankar “Konsep Tuhan Dalam Hindu Dan Islam” 
[15] Ibid 
[16] Bedasarkan Vidio Dr. Zakir Naik “Sisi Persamaan Antara Hindu dan Islam”
[17] Djam’annuri (Ed.), Agama Kita, Perspektif Sejarah Agama-Agama (Sebuah Pengantar), hlm. 48
[18] Ibid
[19] Ibid
[20] Ibid, hlm.49
[21] Ibid, hlm. 49-50
[22] Dr. Zakir Abdulkarim Naik dalam dialog, Dr. Zakir Naik dengan Sri Sri Ravi Shankar “Konsep Tuhan Dalam Hindu Dan Islam” 
[23] Ibid
[24] http://id.wikipedia.org/wiki/Tuhan_dalam_agama_Buddha
[25] Bunce, William K. 1995. Religion in Japan (Buddhism, Shinto, Christianity). Charles E. Tuttle Company: Rutland
[26] Ibid
[28] Nahar Nahrawi, Memahami Khonghucu Sebagai Agama, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 37

[29] Ibid,.  hlm. 37-38.
[30] Ibid,. hlm. 38.
[31] Ibid,. hlm. 38-39.
[32] Ibid,. hlm.  41.
[33] Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1991, cet. XVII), hlm. 78.
[34] Hilman Hadikusuma, Antropologi Agama I, (Bandung: PT Citra Adtya Bakti, 1993, cet. I), hlm. 246.
[35] Ibid,.  hlm. 252.
[36] Ibid,  hlm. 252.
[37] http://www.matakin-indonesia.org/selintas_mengenal_agama_khonghuc.htm, di akses Sabtu, 24 September 2011) Pukul. 19.23 WIB
[38] Ibid,.

SHARE THIS

Author:

Penulis merupakan penulis bebas dan juga penggiat blockchain dan Cryptocurrency. Terima Kasih sudah berkunjung ke Blog Saya, bebas copy paste asal mencantumkan sumber sebagaimana mestinya.

0 comments: