Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Friday, September 23, 2022

Gelar Manasik Haji, Ini Harapan SDIT Arkan Cendekia

Gelar Manasik Haji, Ini Harapan SDIT Arkan Cendekia

 


SDIT Arkan Cendekia kembali menggelar Manasik Haji untuk para siswanya. Kali ini untuk para siswa Grade 4-6, yang sebelumnya diperuntukan untuk Grade 1-3. Kegiatan yang berlangsung di komplek Arkan Islamic School Ini diharapkan dapat mendidik siswa tentang agama Islam sejak dini, hal ini di sampaikan ketua Panitia Manasik Mr. Zaini pada Jum’at, 23 Septer 2022.

"Acara Manasik Haji ini adalah acara yang paling ditunggu-tunggu oleh wali murid. Karena ini merupakan salah satu ajaran agama Islam. Karena itu SDIT Arkan Cendekia mengajarkan anak-anak agar mengetahui bagaimana tata cara naik Haji dan Umrah. Tadi kita  sudah menjelaskan tetang tata cara tersebut seperti niat ibadah haji, tawaf mencukur rambut botak dan semua prinsip-prinsip lainnya. Terakhi minum air zam-zam yang disunahkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi sallam", jelas Zaini kepada Arkan Magz.

Zaini juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dan juga permohonan bila ada yang salah selama kegiatan manasik haji berlangsung. Menasik Haji tahun ini mengangkat tema "Menasik Haji Kita Tanamkan Karakter Islam kepada Anak Sejak Dini”.

Pantauan Arkan Magz dilapangan kegiatan Manasik Haji ini berlangsung sesuai rencana dan para siswa yang mengikuti kegiatan tersebut tampak senang walaupun ditengah tariknya matahari pagi. a/m






Friday, September 16, 2022

Training Leadership Imam dan Khatib Ke 5 Di Dewan Da'wah

Training Leadership Imam dan Khatib Ke 5 Di Dewan Da'wah


Jakarta - Bidang Bina Masjid Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia menggelar Training leadership Imam dan Khatib se DKI Jakarta, yang berlangsung di Aula Masjid Al Furqan pada Ahad, (11/9/22). Dalam training kali turut menghadirkan Keynote Speaker Wakil Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia yaitu; Dr. Imam Zamroji, MA. 

Pada kesempatan tersebut Imam Zamroji menceritakan Peran Da'wah Imam dan Khatib dalam menjaga NKRI dengan landansan Firman Allah Dalam Al-Qur'an Surat Al-'Araf. 96. "Jikalau sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan."

Selain itu beliau juga mengisahkan para tokoh da'wah para pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Termasuk Mosi Integral Mohammad Natsir, yang menjadi cikal bakal lahirnya NKRI. 

Acara ini diikuti oleh 49 peserta dari sekitar DKI Jakarata dan Jabodetabek, yang terdiri dari Utusan DKM Masjid dan atau Masjid Perusahaan/Perkantoran. Tarining dipandu oleh Andi Marwan, S. Sos.I selaku Tim Training Da'wah Leadership. 

"Ini merupakan training ke 5 kalinya Training Leadership Imam dan Khatib, karena terus adanya permintaan dari berbagai DKM Masjid di berbagai Daerah, hal ini disampaikan oleh Aswan Haidi, M.Pd.I Selaku Ketua Bidang Bina Masjid di Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia di sela-sela training berlangsung.

Adapun Leadership Khatib disampaikan oleh Ust. Muhammad Hanif, M.Pd.I selaku Ketua Korps Mubaligh Pusdiklat Dewan Dakwah, Founder Leadership Imam dan Khatib, dan juga Mentor Leadership Charisma Class.

Sementara terkait Leadership Imam disampaikan disampaikan oleh Aswan Haidi, M.Pd.I sebagai Trainer Dakwah Leadership sekaligus menjabat sebagai Ketua Bidang Bina Masjid Dewan Dakwah Pusat.

Training Leadership yang dikemas secara profesional dan elegant memberikan materi yang sangat banyak manfaatnya dan tidak didapatkan pada pelatihan pada umumnya, yaitu Tehnik Full Body Communication, Tehnik Khutbah yang Memukau, dan Formula Retorika Khatib yang Meyakinkan dan Berkesan.

Adapun yang berkaitan dengan keimaman, peserta diberikan materi, Tehnik Menjadi Imam yang Berkesan, Tehnik Meluruskan Shaff, Mengatur Nafas dan Suara, serta Irama yang Indah dan Serasi.

Tujuan training ini diselenggarakan untuk meningkatkan kualitas dan atau menjadi Imam dan Khatib/Dai yang profesional, handal dan memukau. Sehingga berbekas di benak para jamaah.

Setelah peserta dibekali ilmu tersebut, maka pada sesi terakhir diadakan Kompetisi-Audisi Imam dan Khatib antar kelompok peserta yang langsung dijuri (dinilai), diberikan feedback oleh para trainer.

Sepuluh Peserta terbaik dalam audisi tersebut diberi hadiah istimewa.

Training yang dikemas dengan menarik ini mendapatkan antusias yang tinggi dan tanggapan positif dari para peserta. Mereka berharap bisa mengadakan training semacam ini di daerahnya masing-masing. [] 

Friday, April 1, 2016

Makna Wisuda Untuk STID Mohammad Natsir Jakarta

Makna Wisuda Untuk STID Mohammad Natsir Jakarta

Oleh: Amriadi Al Masjidiy*

Wisuda sebagai tanda kelulusan mahasiswa di sebuah penguruan tinggi, dimana para mahasiswa setelah wisuda akan terlepas dengan segala aktivitas dari kampus. Sering kita dengar setelah wisuda bagi mahasiswa akan bersenang-senang karena sudah terlepas dari segala desahan mata kuliah dan terlepas dari tugas-tugas dosen dibangku kuliah.

Makna wisuda tidak bisa paksakan demikian bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir Jakarta. Dimana mahasiswa STID Mohammad Natsir setelah wisuda langsung ditugaskan pengabdian satu tahun di perdalaman Nusantara. Baru saja terlepas dari tahfidz Al-Qur’an 4 Juz, Praktek Kerja Lapangan (PKL) dan Skripsi tentunya. Setelah hal yang berat ini terlewati bagi mahasiswa STID Mohammad Natsir masih ada tantangan satu lagi yaitu pengabdian Masyarakat selama satu tahun.

Menurut Info baru-baru ini kampus juga berencanakan untuk seluruh mahasiswa Beasiswa full akan ditetapkan untuk dua tahun pengabdian. Lagi-lagi tugas berat yang akan diebankan kepada mahasiswa oleh kampus. Kampus Da’wah STID Mohammad Natsir tentunya sangat beda dengan kampus da’wah lain, dimana STID Mohammad Natsir merupakan kampus pencentak kader Da’I Ilallah. Sehingga bagi mahasiswa setelah wisuda walaupun tidak pengabdian dia juga akan mengembang beban pikiran yang berat yaitu kembali kepada masyarakat untuk berda’wah bukan untuk kerja dan kerja.

Hal inilah yang membedakan dengan kampus lainnya. Mahasiswa selama di kampus selalu dalam pengawasan. Setelah lulus mahasiswa tidak ada lagi pengawasan dari kampus, hal inilah yang membuat saya untuk bertanya kepada yang wisuda ke VI besok, 31 Maret 2016. Pertanyaan pertama bisakah para wisudawan dan wisudawati bergelut dalam pemikiran yang bebas di Indonesia? bisa berinteraksi dengan masyarakat bawah yang dilihat dari finansial mereka tidak dibutuhkan pendidikan namun yang dibutuhkan adalah makan dan makan, siapkah untuk mengembang perekonomian masyarakat?.

Dan berbagai pertanyaan lainnya tentu para wisuda yang telah lulus skripsi mampu menjawabnya lantaran dalam penulisan skripsi adalah menyelesaikan masalah bukan membuat masalah. Dari hal-hal itulah yang membuat saya menunda skripsi dan tidak wisuda tahun ini karena belum memiliki skil da’I yang benar-benar ilallah yang hanya berharap kepada Allah semata. Inilah yang saya usahakan untuk tetap istiqomah bertahan untuk menjadi Mapala (Mahasiswa Paling Lama). Usaha demikian bukan karena sok-sok-an, tetapi untuk mengasah segala skil untuk bisa bermasyarakatan dengan baik.

Mengerjakan skripsi dan sidangnya skripsi juga membutuhkan finansial untuk menyelesaikannya belum lagi wisudanya. Memang tergolong pusing untuk mahasiswa tingkat saya yang biasanya beriteraksi di desa perdalaman, tetapi kemudian ke Jakarta untuk mencari ilmu dan mengenal jati diri sebagai anak desa masuk kota Jakarta. Tentunya hal ini menyulitkan bagi kami, namun terima kasih kepada seluruh wisudawan dan wisudawati karena dengan menghadiri wisuda kali ini membuat saya semangat untuk berjuang dalam mengerjakan tuga-tugas akhir dari kampus.

Wisudawan/wisudawati STID Mohammad Natsir yang telah sukses menjalankan tugas selama ini semoga Allah selalu memberkahi kita semua. Mohon doanya kepada kami yang belum wisuda, semoga Allah memberikan jalan kemudahan kepada kita untuk bisa menjadi sang perkerja yang digaji langsung oleh Allah swt. Sebagai tugas pewaris para nabi dan ambiya, Da’I illallah namanya.

Selamat Sukses Wisudawan dan Wisudawati ke VI Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir Jakarta. (Kompasiana/Tebar Suara/Info Bekasi)

Kramat Raya, 30 Maret 2016 – 9:35 PM

*Penulis merupakan mahasiswa STID Mohammad Natsir Jakarta Asal Aceh semester 8.

Sunday, May 24, 2015

Foto Aksi Kemanusian Mahasiswa STID Mohammad Natsir untuk Peduli Muslim Rohingya

Foto Aksi Kemanusian Mahasiswa STID Mohammad Natsir untuk Peduli Muslim Rohingya


Jakarta | BEM STID M. Natsir menyelenggarakan penggalangan dana untuk Muslim Rohingya. Penggalangan ini dimulai sejak Jumat (22/05/2015) dan akan berlanjut selama satu pekan ke depan. Kegiatan ini bertempat di komplek Pusdiklat Dewan Da’wah Tambun, Bekasi. Dengan menggunakan kotak infaq sederhana dan sedikit berorasi. Para mahasiswa berdiri dipinggi jalan dan menyodorkan kepada setiap pengguna jalan Kp. Bulu, setiamekar. Partisipasi yang didapatkan dari pengguna jalan serta para jama’ah sholat Jum’at lumayan besar.


bagi anda yang mau ikut partisipasi silahkan hubungi kami, di 085359021647 dan bisa lewat rekening kami BEM Stid Mohammad Natsir Jakarta atau datang ke Posko Peduli Rohing ya di Komplek Pusdiklat Dewan Da'wah Tambun Bekasi. No. Rek: 3290010268 a/n LPM STID Mohammad Natsir. atau melalui Lazis Dewan Da'wah di Bank Muamalat, No. Rek.: 3580001175 dan BNI Syariah 0184462114 a/ Lazis Dewan Da'wah 












Friday, May 15, 2015

MOS Sebuah Budaya: Pendidikan Indonesia dan luar

MOS Sebuah Budaya: Pendidikan Indonesia dan luar

Judul Asli: Encouragement
LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.
Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat,bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.
Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya.Dia pun tersenyum.
Budaya Menghukum
Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu. “Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,”lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai.Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.
“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya. Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor. Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.
Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.
Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.
Ada semacam balas dendam dan kecurigaan. Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya. “Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.” Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.
Melahirkan Kehebatan
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau,...; Nanti,...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.(*)