Tuesday, January 12, 2016

Menyikapi Haru-Hara di Aceh


 
Puluhan tahun kita telah hidup dalam keresahan dan ketakutan akan kontak senjata antara Gerakkan Aceh Mardeka (GAM) dan Tentara Negara Indonesia (TNI). Sekarang keduanya telah berdamai dan hidup dalam situasi persaudaraan, melalui perdamaian MUO tahun 2004, paska Tsunami. Perdamaian ini sekarang telah ada bibit pemicu kembali komplik di Aceh, hal bisa kita lihat dengan timbulnya Eks GAM yang tidak puas akan kepemerintahan daerah, setelah itu timbul lagi politisi yang saling menjatuhkan karena perbedaan pendapat.
Sebelum Parade Aswaja diadakan terlebih dahulu diadakannya rapat musyarawah tentang kepengurusan Masjid Raya Baiturrahman, dalam rapat itu diputuskan oleh ulama Pesantren, FPI, NU dan MPU Aceh. Maka dari sini dapat kita baca, kalau rapat itu dan hasil keputusan itu sebenarnya tidak mewakili ormas Islam di Banda Aceh. Sebut saja Muhammadiyah, PKS, Dewan Da’wah, Universitas Islam dan lain-lain kenapa tidak ada dalam rapat keputusan itu.
Maka dari sini akan memunculkan kesalahpahaman masyarakat, namun setelah keputusan itu bukan hanya berhenti sampai disitu. Untuk mengambil hati rakyat dalam politik ini dibuat lagi Parade Aswaja. Yang intinya lagi-lagi menyerang kaum pembaharuan seperti Muhammadiyah, Gerakkan Tarbiyah (PKS), Gerakkan Da’wah (Dewan Da’wah) dan lain-lain. Dalam parade itu juga terdapat kesalahan fatal, karena yang jelas sesat di diamkan dan yang belum tau sesat atau tidak malah diperangi.
Salah satu kampanye yang membuat kita geli, “Wahabi Haus Darah Ulama Aceh”. Ketika saya menanyakan apakah wahabi membantai ulama di Aceh, mereka menjawab tidak. Lah, kenapa juga ada spanduk “wahabi Haus Ulama darah Ulama Aceh”, ini jelas fitnah. Lantas apa itu wahabi, wahabi itu adalah aliran yang memotong amal ibadah, seperti Shalat terawih 23 rakaat dipotong menjadi 11 rakaat.
Maka dari sini saya tau kalau yang maksud wahabi itu demikian. Jadi standar sesat di Aceh karena shalat terawih bukan 23 rakaat. Kami terus mencari tau tentang hal ini, kemudian kami ketahui lagi dalam sebuah opini di Serambi Indonesia yang menjelaskan tentang wahabi dan bagaimana sulit untuk memahami agama Islam ini. Kami berfikir tulisan tersebut untuk membodohi masyarakat, karena Islam itu mudah maka jangan dipersusah.
Maka beda dengan tulisan opininya yang menyerang wahabi dan lupa diri, bahkan menyerukan agar meresmikan satu mazhab di Aceh seperti Negara Iran dan Arab. Padahal ini terlalu jauh karena ukuran yang berbeda, provinsi tidak sebanding dengan Negara. Maka dari itu seharusnya penulis opini Serambi sebaiknya jangan karena politik membodohi rakyat Aceh untuk terus membebek. Rakyat Aceh perlu dicerdaskan agar pemahaman akan Islam yang mudah ini dijalankan sesuai dengan tuntutan Al-Qur’an dan As-sunnah. Kecuali ayat-ayat yang perlu ditkwilkan, ini baru urasan para ulama.
Politik inilah yang kemudian membuat orang kafir semakin berani di Aceh, sampai-sampai umat kristiani menyerang umat Islam di Singkil. Ini semua karena umat Islam terlihat perpecahannya. Karena yang sesat didiamkan dan yang lurus disesatkan. Peristiwa Singkil membuat Masyarakat Aceh naik darah. Sehingga terjadilah peristiwa pembakaran gereja, namun kembalilgi peristiwa ini semakin dipolitisi.
Dari pusat Jakarta Presiden berkicaun untuk menhentikan kekerasan di Aceh, ketua Anshor NU Nusron Wahib juga tidak ketinggal yang katanya Aswaja. Nusron Wahib menyerukan untuk membakar Masjid dulu karena tidak IMB. Prediden maupun GP Anshor NU sama-sama diam terhadap penyerangan Tolikara oleh Kristen GIDI. Kenapa geliran umat Islam di Singkil banyak yang membicarakan.
IMB di tempat yang manyoritas Islam tidak perlu untuk membangun masjid, tetapi kalau selain Islam itu harus, begitu juga dengan di daerah yang manyoritas non-Islam seperti Bali, Papua dan lain-lain. Maka pembangunan Masjid harus ada IMB dan tidak perlu bangi yang manyoritas disana kecuali sama-sama manyoritas. Di Aceh daerah Istimewa yang baru saja damai dari komplik yang berkepanjangan. Selain itu di Aceh juga masih ada eks GAM yang masih bergerilya di hutan, oleh karena itu seharusnya pemerintah sadar akan hal ini.

Sewaktu-waktu Aceh akan kembali komplik, untuk itu perdamaian Aceh yang telah terbentuk jangan dipolitisi untuk konplik lagi. Saran saya untuk rakyat Aceh jangan tervavokasi oleh politisi yang bermain di Aceh. Dan berhati-hati dalam bertindak jangan sampai kita menghidupkan kembali api yang telah padam. Hidup aman sejahtera yang harus kita bangun bersama dan kita main bersama dalam politik yang tidak merugikan rakyat. 

SHARE THIS

Author:

Penulis merupakan penulis bebas dan juga penggiat blockchain dan Cryptocurrency. Terima Kasih sudah berkunjung ke Blog Saya, bebas copy paste asal mencantumkan sumber sebagaimana mestinya.

0 comments: