Sunday, October 1, 2017

[Catatan Skripsi] Sekilas Profil (Bagian 3)

Oleh: Amriadi Al Masjidiy
Saat saya di Lampung, disana juga tercampur aneka budaya. Ada budaya Lampung asli, budaya Jawa dan juga hindu Bali. Kuliah di Metro Lampung telah mendidik saya aneka macam permikiran. Baik pemikiran da’wah maupun budaya kemasyarakatan disana. Tugas da’wah di perdalaman Lampung juga sudah saya laksanakan.

Dalam beberapa Kafilah Da’wah di lampung juga telah melebarkan mata saya. Bahkan jalan di perdalaman Lampung Selatan lebih jelek dari jalan di kampung saya. Namun itu mendingan, dibandingkan dengan jalan di M3 dan M7 di desa saya.

Artinya negeri yang mahripah ini, tapi jalan saja tidah mampu teraspal dengan baik. Kebun-kebun dikuasai oleh para Investor asing dan aseng. Warga desa hanya mampu melihat saja, karena mereka tidak mampu membuat apa-apa.

Karena itu gerakan da’wah sangat penting untuk daerah perdalaman yang demikian. Karena kemiskinan adalah pintu masuk para misionaris dalam menyebarkan misinya. Ternyata kuliah di fakultas yang paling tidak diminati di negeri ini. Mampu membuka wawasan saya tentang humanity, walaupun di kampus tidak pernah ada mata kuliah humanity. Tetapi kondisi lapanganlah yang mengajarkan saya tentang kehidupan kemasyarakatan.

Semua masyarakat perdalaman hidupnya dalam kemiskinan. Mereka harus berkerja keras dalam menghidupi keluarganya. Bahkan manyoritas mereka pendidikan tidak penting. Selain itu kondisi sekolah diperdalaman juga tidak memadai. Jangankan mengenal Corel Draw dan Photoshop untuk designer. Komputer saja mereka tidak kenal.

Setelah lulus di Akademi Da’wah Indonesia selama dua tahun di Metro Lampung. Saya mengharuskan untuk melanjutkan kuliah S1 di Jakarta. Dimana kuliah di Jakarta hanya untuk para elit dan yang lain adalah para pemimpi untuk kuliah disana. Bagi anak miskin dan anak desa, mana bisa bermimpi untuk kuliah tinggi-tinggi. Kalau pun ada diantara mereka adalah golongan yang nekat.

Nekat segalanya. Nekat melawan arus, nekat melawan hidup. Nekat untuk ngutang dan sebagainya. Saya termasuk salah seorang dari itu, yang nekat segalanya. Awal masuk ke STID Mohammad Natsir saya berhutang pada banyak teman. Maklum selama 2 minggu kami tidak di tanggung biaya makan.

Hari-hari kita jalanin bersama teman-teman. Asrama adalah tempat hidup kami. Suka dan duka kita rasakan bersama. Hari-hari itu kami jalani hingga pada suatu masa dimana kami harus berpisah. Perpisahan kebersamaan dimulai saat program kafilah da’wah di Lampung dan Sambas.

Dimana kami kembali harus terjun ke perdalaman. Manyoritas tempat kami tugas kebanyakan non-muslim dibandingkan muslim. Sekolah favorit adalah sekolah kristen, sekolah negeri sudah lusuh dan tempat kambing tidur. Waktu hujan akan basah. Sekolah Islam seperti SD IT jangan harap ada disana.

Karena itu kedatangan kami dalam menyiarkan Islam, disambut dengan baik. Namun baik itu bagi warga muslim. Bagi non-muslim adalah hal yang paling buruk. Bahkan teman kami sampai di ancam mau dibunuh oleh para pemabuk non-muslim.

Makan yang halal sangat sulit kita bedakan. Apa itu warung muslim atau bukan kita tidak mengetahuinya. Karena itu kebanyakan dari kami harus makan mie Instan. Karena itu ada teman hingga sakit tipes, karena mie Instan jadi makanan halal terfavorit.

Setelah lebaran Idul Fitri 2015 kami selesai dari tugas kafilah da’wah. Waktu perpisahan anak-anak menangis histeris lantaran kehilangan kakaknya. Mereka tidak ingin kami pulang. Bahkan hampir 24 jam kami menerima telp dari mereka di waktu pertama-tama pulang.

Setelah sampai di Jakarta, kami harus tinggal di Masjid. Saya hampir 3 bulan mencari masjid tidak ketemu. Akhirnya terpaksa harus tinggal di sebuah yayasan. Namun di yayasan tidak lama karena bertentangan dengan kebijakan kampus, karena kibjakan kampus harus tinggal di masjid. Akhirnya saya tinggal di mushalla. Waktu itu hari-hari sangat pahit. Dimana utang ada dimana-mana. Bahkan gali lubang tutup lubang. Maklum saya tidak ada kiriman dari kampung halaman. Tidak seperti anak-anak lainnya.

Duka ini sampai saya mengerjakan skripsi dan bahkan hingga sekarang mau wisuda. 1.250.000 harus ngutang untuk bisa wisuda tahun ini. Maka bagi yang bertanya kepada saya kenapa Amriadi belum pulang ke kampung halaman untuk menjenguk orangtua. Itu yang bertanya tidak punya hati dan perasaan. Namun tetap saya memaklumi mereka. Karena mereka tidak tau kondisi saya, yang mengumpulkan koin demi koin untuk hidup.

Hari-hari ini terasa berjalan begitu cepat. Namun belum tampak cahaya penerang kehidupan yang menyenangkan. Kecuali saat bermain dengan anak-anak. Mereka adalah penghibur yang pernah ada. Karena bermain dengan mereka bisa membawa saya kepada masa kecil. Dimana segalanya tidak saya hiraukan lagi. Masa kecil saya yang sangat suram itu. Tidak yang bisa dinikamti waktu kecil, dimana kita menyaksikan orang dibunuh, ditembak dan rumah dibakar. Itu semua terjadi saat komplik GAM dan TNI.

Sehingga bermain dengan anak kecil sekarang. Alam bawah sadar saya seolah saat ini saya masih kecil dan bermain ria dengan teman-teman. Kita dan semua anak-anak waktu kecil adalah masa bermain, masa mengenal lingkungan dan lainnya. Karena itu anak-anak sangat mudah menghafal di waktu ini. Mereka cepat akrab satu sama lain.

Setelah lulus skripsi kegiatan saya menulis dan design grafis. Semua saya lakoni dengan prinsip sosial. Saling membantu, bukan saling menghitung. Karena itu saya harus makan sehari dua kali. Namun saya masih bisa berbagi dengan kawan-kawan dan anak-anak. Maklum saya adalah termasuk orang yang sosial. Sesuai dengan gelar saya S.Sos.

Namun saya masih mereka aneh, prodi saya Komunikasi dan Penyiaran, tapi gelar akhir sosial. Padahal ilmu sosial kita tidak pernah belajar. Dimana letak sosialnya. Saya tidak bangga dengan gelar tersebut. Karena tidak sesuai dengan kadar Ilmu dan apa yang selama ini kita pelajari.

Tapi alhamdulillah saya sudah lulus kuliah. Telah menyandang S1, membuat orangtua bangga. Ibu yang serba tidak ada bisa menyokalahkan anaknya hingga lulus di penguran tinggi di Jakarta. Sebuah kehormatan bagi keluarga kami di kampung halaman. Walaupun saya tidak begitu bahagia dengan gelar itu.

Tapi apa boleh buat kebijakan bukan kita yang atur. Sesuai dengan kebijakan dan aturan yang harus kita ikuti bersama. Dan akhir profil singkat ini saya ingin mengungkapkan. Selamat datang di negeri Ilusi. Semua serba terlaik, yang halal dilarang dan yang haram dianggap baik. Itulah tugas kita selanjutnya. Selamat beraktivitas. Salam special untukmu. []



SHARE THIS

Author:

Penulis merupakan penulis bebas dan juga penggiat blockchain dan Cryptocurrency. Terima Kasih sudah berkunjung ke Blog Saya, bebas copy paste asal mencantumkan sumber sebagaimana mestinya.

0 comments: