Showing posts with label Suara Rayat. Show all posts
Showing posts with label Suara Rayat. Show all posts

Tuesday, February 2, 2016

Golf dan Leuhop di Aceh

Golf dan Leuhop di Aceh



Oleh: Amriadi Al Masjidiy*

Pemerintah Aceh merencanakan membangun lapangan Golf dengan biaya 33 Milyar. Ini suatu pembangunan yang luar biasa untuk kegiatan olahraga. Inisiatif ini perlu kita acungkan jempol untuk pemerintah Aceh. Karena golf ini merupakan olahraga paling elite untuk lapangannnya. Biasanya swasta yang membangun demikian, tapi ini pemerintah aceh yang ingin membangun sendiri lapangan Golfnya sampai 33 M. Sudah barang tentu ini adalah suatu yang membanggakan rakyat Aceh, membuat para wisatawan untuk datang ke Aceh, membuat anak-anak dari provinsi lain juga untuk berkunjung ke Aceh walau hanya sekedar main Golf. Menarik orang luar semacam ini tentu hal yang luar biasa bagi masyarakat Aceh itu sendiri.
Menariknya lagi, inisiatif ini ada ketika di Aceh lagi ada kelompok yang menuntut keadilan terhadap pemerintah Aceh. Sebut saja Din Minimi yang lagi heboh di Aceh. Hal ini menandakan pemerintah Aceh serius dalam membangun kesejahteraan rakyat Aceh. Karena permainan Golf yang elit ini akan meningkatkan pendapatan untuk Aceh. Tentu hal ini sangat tidak sia-sia di suatu sisi. Namun bagaimana dengan sisi yang lain. Maka dari itu saya membawa leuhop (lumpur, dalam bahasa Indonesia) kedalam tulisan ini.
Apa hubungannya antara Golf dengan leuhop? Saat ini suasana di Aceh selain sibuk membahas Din Minimi, baku tembak, sabu-sabu dan yang lainnya, ada hal hampir lupa kita perhatian yaitu suasana hujan saat ini. Menurut Informasi di Serambi Indonesia terdapat 1.191 rumah terendam banjir dan bahkan banyak rumah dan fasilitas lainnya yang rusak di Aceh Besar, Pidie dan Aceh Timur. (http://aceh.tribunnews.com, 28 Januari 2016).
Maka dari itu persoalan hujan dan banjir ini, sudah barang tentu harus mendapat perhatian lebih dari pemerintah saat ini ketimbang Golf. Jika hal ini tidak diperhatiankan oleh pemerintah sama dengan pemerintah ingin membuat banyak Din Minimi lain di Aceh. Perkara ini bukan perkara yang tidak serius, karena di Aceh masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan. Ketimbang mempercepat membangun lapangan Golf, lebih baik dana 33 M itu di salurkan kepada masyarakat yang lagi tertimpa musibah banjir di Aceh, memperhatikan Anak Yatim dan Janda, memperhatikan mantan kombatan GAM (Gerakkan Aceh Mardeka) dan sudah tentu mensejahterakan rakyat Aceh pada umumnya. Hal ini merupakan kewajiban bagi pejabat-pejabat yang duduk di kursi kepemerintahan Aceh.
Jika pemerintah tetap membangun lapangan Golf tanpa peduli terhadap rakyat miskin. Maka hal ini yang terjadi. Ketika anak-anak elit bisa main Golf, maka anak-anak miskin hanya mampu main leuhop. Ketika anak Yatim melihat anak elit main Golf mereka hanya mampu kap jaroe, ile ie babah (gigit jari, keluar air liur di mulut) karena mau main Golf sudah tentu setelah main mereka harus makan batu lataran tidak punya uang untuk makan. Dan ini juga akan semakin memisahkan antara si kaya dengan si miskin di Aceh, yang kaya main Golf yang miskin walaupun sudah ile ie babah hawa meuen seperti orang yang mengidam buah manga tetapi tetap tidak bisa mendapatkannya.
Organisasi Masyarakat Al Kahar membuat tanda tangan petisi agar anggaran 33 M itu tidak di alokasikan untuk pembangunan lapangan Golf. Karena menurut mereka, “Merenovasi lapangan golf bukanlah waktu yang tepat dilakukan. Membangun infrastuktur, menyediakan lapang kerja yang ril serta mengentaskan kemiskinan adalah hal yang harus diutamakan”. (lihat di https://www.change.org) Petisi yang dibuat oleh Organisai tersebut sampai tulisan ini dibuat baru memcapai 13 akun yang berpartisipasi didalamnya, silahkan di lihat di https://www.change.org/p/ormas-al-kahar-pak-mendagri-coret-alokasi-anggaran-aceh-rp-33-m-untuk-lapangan-golf.
Karenanya saya sangat menyarankan agar pemerintah Aceh untuk mengurung niatnya membangun lapangan Golf di Aceh. Karena yang takutkan, ini termasuk kejahatan sosial yang terstruktur. Apalagi jika kita lihat masyarakat Aceh sangat sedikit yang mampu main Golf. Kalau tidak mau dikatakan tidak ada. Sekali lagi, kalau kaum elit merasa mampu dan ingin mengikuti olimpiade Golf silahkan datang ke tempat lain untuk ikut latihan main Golf tanpa harus membuat lapangannya di Aceh. Semoga saja mereka akan menjadi pemenang di Olimpiade Golf nanti dan sudah tentu akan membawa harum nama negeri ini di mata dunia.
Daripada membangun lapangan Golf di Aceh, pemerintah lebih baik membangun lapangan olahraga seperti lapangan olahraga Berkuda, Berenang dan Memanah karena Aceh merupakan daerah yang notabene syariat Islam yang kuat, karena ketiga olahraga tersebut adalah olahraga anjuran dari Baginda Nabi Muhammad SAW. “Ajarilah anakmu berkuda, memanah dan berenang”. Apalagi untuk membangun lapangan olahraga tersebut tidak menghabiskan biaya sampai puluhan Milyar. Karena itu saya sarankan untuk membangun lapangan tersebut.
*) Penulis adalah pemerhti masalah lingkungan, saat ini aktif dalam Olahraga Memanah di Sahabat Archery Bekasi, bagi Anda yang tinggal di seputaran Bekasi dan ingin mengikuti Olahraga tersebut silahkan menghubungi saya lewat E-Mail: amriadicyber@gmail.com atau bisa juga menggunjungi http://sahabatarchery.blogspot.com

 artikel ini telah di muat di Aceh Trend dimuat juga di AJNN.NET dan KAO namun tulisan saya diedit 80% dan menghilangkan maksud dan tujuan dari tulisan ini.

Friday, August 7, 2015

Islam Nusantara: Anti Arab atau Anti Islam

Islam Nusantara: Anti Arab atau Anti Islam

Oleh: Amriadi Al Masjidiy
Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi. Jadi beda Islam Arab dengan Islam Indonesia. Bagi mereka bahwa Islam di Indonesia adalah “pendatang” dari Arab yang “numpang”, bukan agama “asli” bangsa Indonesia. Islam sebagai pendatang dari Arab harus tunduk dan patuh kepada Indonesia selaku pribumi, sehingga Islam harus siap “dipribumisasikan” agar tunduk kepada budaya setempat. Karenanya, tidak boleh lagi ada istilah “Islamisasi Indonesia”, tapi yang mesti dilaksanakan adalah “Indonesia-isasi Islam”. Jadi, jangan pernah katakan “Indonesia negara Islam”, tapi katakanlah “Islam ada di Indonesia”.
Islam yang ada di Indonesia selama ini adalah “Islam Arab”, sehingga budaya Nusantara terancam dan tergerus oleh Arabisasi. Karenanya, di Indonesia semua budaya Arab yang menyusup dalam Islam harus diganti dengan budaya Nusantara, sehingga ke depan terwujud “Islam Nusantara” yang khas bagi bangsa Indonesia. Intinya, mereka menolak semua budaya Islam yang beraroma Arab, karena dalam pandangan mereka semua itu adalah “Arabisasi Islam”, sehingga perlu ada gerakan “Indonesia-isasi Islam” di Nusantara.
Islam sebagai pendatang dari Arab tidak boleh mengatur apalagi menjajah Indonesia, tapi Islam harus tunduk dan patuh kepada Indonesia selaku pribumi. Karenanya, bangsa Indonesia boleh ambil budaya Islam, tapi wajib tolak budaya Arab, supaya budaya Nusantara tidak terjajah dan tidak pula tergerus oleh budaya Arab. ini adalah propaganda busuk mereka yang ingin menolak budaya Islam dengan “dalih” budaya Arab. Pada akhirnya nanti, semua ajaran Islam yang ditolak dan tidak disukai mereka, akan dikatakan sebagai “budaya Arab”. Dan propaganda ini sangat berbahaya, karena menumbuh-suburkan sikap rasis dan fasis, serta melahirkan sikap anti Arab, yang pada akhirnya mengkristal jadi anti Islam.
 Menurut mereka bahwa jilbab adalah budaya Arab karena merupakan pakaian wanita Arab, sehingga harus diganti dengan pakaian adat Nusantara. Ucapan “Assalaamu ‘alaikum” adalah budaya Arab, sehingga harus diganti dengan “salam sejahtera” agar bernuansa Nusantara dan lebih menunjukkan jatidiri bangsa Indonesia. Termasuk baca Al-Qur’an tidak perlu lagi dengan langgam Arab, tapi sudah saatnya diganti dengan langgam Nusantara seperti langgam Jawa dan Sunda atau lainnya, agar lebih Indonesia. Baca Al-Qur’an tidak mesti dengan bahasa Arab, tapi cukup dengan terjemah Indonesianya saja, agar umat Islam Indonesia bisa langsung menyimak dan memahami makna dan arti ayat-ayat yang dibaca.
            Dari berbagai gagasan mereka diatas sangat terlihat mereka itu anti terhadap Arab, yang sebenarnya mereka itu anti Islam. Perlu diketahui, Islam adalah agama asli yang turun dari langit untuk seluruh penduduk bumi, karena Islam datang dari Allah . sang pemilik alam semesta, sehingga Islam di mana saja di atas bumi Allah . akan selalu menjadi agama “asli” yang “pribumi”, dan tidak akan pernah jadi “pendatang”.
Jadi, Islam bukan dari Arab, tapi dari langit yang diturunkan pertama kali di tengah orang Arab, kemudian disebarkan ke seluruh dunia.
Jika pola pikir diatas diterapkan sangat berbahaya, karena Islam di China mesti di-China-isasi, dan Islam di India mesti  di-India-isasi, serta Islam di Amerika juga mesti di-Amerika-isasi, dan seterusnya, sehingga Islam di dunia jadi bermacam-macam dan berjenis-jenis sesuai negerinya. Jika mundur lagi ke belakang, mestinya saat Islam ada di tengah masyarakat jahiliyyah, maka Islam harus di-jahiliyyah-isasi. Jelas bahwa pola pikir mereka di atas ngawur dan tidak ilmiah, bahkan sesat menyesatkan.
Jika pola pikir ini dianggap biasa, maka nantinya bukan saja Islam Nusantara. Tapi juga akan gaungkan Islam Sumatra, Islam Jawa, Islam Sunda, Islam Kalimantan, Islam Sulawesi, Islam Papua, atau Islam Ormas, Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam MUI, Islam Pemerintah, dan seterusnya. Maka Jelas gagasan Islam Nusantara harus dihentikan. Karena ini akan memecah belahkan Islam. Padahal Rasulullah Muhammad . Diutus untuk rahmatalil ‘alamin. Rahmat bagi seluruh alam, jadi jelas sudah, bahwa Islam Nusantara adalah gagasan yang ngawur.
Rasulullah . diutus di tengah bangsa Arab untuk meng-Islam-kan Arab, bukan meng-Arab-kan Islam. Bahkan untuk meng-Islam-kan seluruh bangsa-bangsa di dunia, bukan untuk meng-Arab-kan mereka. Jadi, tidak ada Arabisasi dalam Islam, yang ada adalah Islamisasi segenap umat manusia. Budaya jilbab adalah kewajiban dalam Islam, bukan budaya dari bangsa Arab. Maka dalam hal ini mereka buta akan sejarah, karena di zaman jahiliyyah, masyarakat Arab tidak kenal jilbab, dan wanita Arab tidak berjilbab.
Bahkan wanita Arab saat itu terkenal dengan pakaian yang umbar aurat dan pamer kecantikan, serta tradisi tari perut yang buka puser dan paha. Lalu datang Islam mewajibkan wanita muslimah untuk berjilbab menutup aurat, sehingga wanita muslimah terlihat berbeda dengan wanita musyrik. Dengan demikian, jilbab adalah busana Islam bukan busana Arab, dan jilbab adalah kewajiban agama bukan tradisi dan budaya. Begitu juga halnya dengan salam dalam Islam, dalam sejarah bangsa  jahiliyyah, salam masyarakat Arab adalah “wa shobaahaah”, bukan “Assalaamu ‘alaikum”. Lalu datang Islam yang mengajarkan umatnya salam syar’i antar kaum muslimin, yaitu “Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullaahi wa barokaatuh”. Jadi salam bukan budaya Arab tetapi diajarkan didalam Islam untuk umat muslim semua.
Mengenai membaca Al-Qur’an dengan langgam Arab bukan kemauan orang Arab, akan tetapi perintah Allah  dan Rasulullah . Dan karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, tentu membacanya harus dengan langgam Arab, agar sesuai dengan intonasi makna dan arti. Dan itu pun tidak tiap langgam Arab boleh untuk tilawah Al-Qur’an. Langgam gambus dan langgam qashidah berasal dari Arab, tapi tidak boleh digunakan untuk tilawah Al-Qur’an, karena keduanya adalah langgam seni dan budaya serta musik dan hiburan. Apalagi langgam tari perut yang merupakan langgam seni dan budaya Arab untuk pertunjukan maksiat, lebih tidak boleh digunakan untuk tilawah Al-Qur’an. Karenanya, membaca Al-Qur’an dengan langgam selain Arab tidak diperkenankan, karena memang tidak sesuai dengan pakem bahasa Arab, sehingga tidak akan sesuai dengan intonasi makna dan arti.
Apalagi dengan langgam seni dan budaya selain Arab yang digunakan untuk hiburan dan pertunjukan, seperti langgam dalang pewayangan, langgam sinden jaipongan, langgam gambang kromong, dan sebagainya, tentu lebih tidak boleh lagi. Allah . telah menganugerahkan bangsa Indonesia kefasihan dalam lisan Arab, sehingga dari Sabang sampai Merauke, orang dewasa maupun anak-anak, sangat fasih dalam mengucapkan lafzhul jalalah “Allah” dan aneka dzikir seperti “Subhanallah wal hamdulillaah wa laa ilaaha illallaah wallaahu akbar.” dan mereka pun sangat fasih juga dalam membaca Al-Qur’an.
Bahkan bangsa Indonesia sangat ahli dalam ilmu tajwid dan amat piawai dalam tilawatil Al-Qur’an dengan langgam Arab, sehingga di hampir setiap Musabaqah Tilawatil Qur’an Internasional, para qori Indonesia banyak sukses dan berhasil keluar jadi juara dunia tilawah. Karenanya, pembacaan Al-Qur’an dengan langgam dalang pewayangan adalah “kemunduran”, di mana bangsa Indonesia yang sudah sangat maju dalam tilawatil Qur’an, hingga mengungguli bangsa Arab sekali pun, lalu dibawa mundur jauh ke alam mitos pewayangan di zaman semar dan petruk.
Mengenai ambil Al-Qur’an buang bahasa Arabnya, ini adalah tujuan sebenarnya dari propaganda mereka yaitu menjauhkan Al-Qur’an dari umat Islam, karena mereka paham betul bahwa ruh dan jiwa Islam adalah Al-Qur’an. Bagi mereka, siapa ingin hancurkan dan lenyapkan Islam, hancurkan dan lenyapkanlah Al-Qur’annya. Jadi jelas sudah, bahwa yang diserang mereka sebenarnya bukan Arab, tapi Islam. Karenanya, selain yang sudah disebutkan di atas, mereka juga melakukan aneka ragam propaganda anti Arabisasi untuk merealisasikan tujuan busuknya.
Kalau alasannya, "Kita harus cinta dan menjaga budaya asli Indonesia," berarti kita juga harus anti Amerika, anti Korea, anti India, anti Australia, anti China, dan sebagainya. Kalau alasannya, "Arab menjajah Indonesia dengan tameng penyebarluasan agama," maka sungguh lucu! Karena justru orang-orang Eropa yang terbukti menjajah Indonesia sambil membawa agama Kristen. Sedangkan Islam masuk ke Indonesia lewat perdagangan dan secara damai, bukan lewat penjajahan.
Kalau dibilang, "Ini Indonesia, bukan Arab. Tak perlu pakai istilah akhi, antum, syukran, jazakallah, abi, umi, dan seterusnya. Padahal saat merayu pacarnya, mereka berkata, "I Love you. I miss you." Saat patah hati, mereka seringkali berkata, "Gue gagal move on, nih." Itu bahasa Indonesia atau bukan? Mereka terlihat sangat anti Arab dengan alasan "Kita harus cinta pada budaya Indonesia." Padahal di saat yang sama mereka membela ajang Miss World, yang jelas-jelas bukan budaya Indonesia.
Orang yang suka lagu nasyid berbahasa Arab mereka mencela dengan alasan, "Itu bukan dari Indonesia." Padahal Mereka justru memuja-muja para boyband dari Korea, tergila-gila pada film India, dan cinta buta terhadap film dan musik dari Amerika. Mereka mungkin lupa: Nama-nama hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu itu berasal dari bahasa Arab. Istilah musyawarah dan adab juga dari bahasa Arab. Banyak sekali istilah bahasa Arab yang kini diserap ke dalam bahasa Indonesia, dan ternyata sering mereka pakai, dan juga mereka menyukainya!
Bahkan kalau mereka belajar sejarah Bahasa Indonesia, mungkin mereka akan kaget dan shock, karena ternyata bahasa Arab memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap bahasa Indonesia. Mereka mungkin belum tahu, bahwa struktur bahasa Indonesia dan Arab itu persis sama. Saking samanya, kita bisa dengan mudah melakukan penerjemahan kata demi kata. Hal seperti ini tidak bisa dilakukan terhadap bahasa lain.
Coba terjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia dengan sistem terjemahan perkata. Bisa dijamin tidak bisa. Karena pasti hasil terjemahannya akan sangat kacau dan ngawur. Tapi bahasa Arab bisa. Itula salah satu bukti bahwa bahasa Indonesia dan Arab punya hubungan yang sangat erat. Kalau mereka mencela Islam sebagai agama dari Arab, bukan dari Indonesia, ternyata mereka masih awam dengan sejarah bahwa Kristen, Hindu dan Budha pun bukan dari Indonesia. Agama asli Indonesia adalah ANIMISME.  Jadi kenapa harus anti Arab? Jangan-jangan mereka sebenarnya anti Islam, bukan anti Arab.
Menjadi Muslim itu berbeda dengan menjadi orang Arab, maka Islamisasi jelas-jelas berbeda dengan Arabisasi. Islam bukan ajaran Arab, walau Al-Qur’an berbahasa Arab, dan Nabi Muhammad dari kaum Arab, Islam itu jalan hidup, prinsip hidup. Faktanya, turunnya Islam justru ditentang kaum Arab di masa itu, karena Islam datang mengubah tradisi, keyakinan, kebiasan jahil Arab. Islam datang kepada kaum Arab membawa tatanan samasekali baru,  baik dalam hal tradisi, kebiasaan, akhlak, hukum, dan juga cara hidup. Perlu dicatat, karena Al-Qur’an dan Nabi Muhammad berbahasa Arab,  maka bahasa Arab juga tidak bisa dipisahkan dari agama Islam. Juga kewajaran, bahwa agama Islam awalnya disebarkan oleh orang Arab, karena memang agama Allah yang pamungkas ini berasal dari sana.
Mengenai tokoh-tokoh besar agama Islam ini adalah orang Arab, itu pun wajar saja, Karena merekalah kaum awal yang beragama Islam. Jadi bisa dikatakan, Arab belum tentu Islam, dan Islam tidak harus Arab, yang jelas Islam itu pasti berdasar Al-Qur’an dan As-Sunnah. Juga salah besar, bila dikatakan Islamisasi sama dengan Arabisasi, lantas menolak Islamisasi dengan dalih, “Ini Indonesia, bukan Arab”. Apa bedanya? jelas sekali beda, menjadi Arab atau bukan Arab itu takdir, sedangkan mengambil Islam atau mengabaikannya, itu pilihan.
Islam itu Islam, tidak perlu ada pandangan “disana Islam Arab, disini Islam Nusantara” ini pandangan yang justru memecah-belah Islam. Islam itu ya Islam, panduannya Kitabullah dan Sunnah, Khulafaurrasyidin, juga tabiin, tabiut tabiin, ulama salaf apapun madzhabnya. Adapun menjadi Muslim, tidak berarti meninggalkan budaya lokal, bila bertentang dengan Islam tinggalkan, bila tidak ya lanjutkan. Apa standar meninggalkan dan melanjutkan budaya setelah menjadi Muslim?  Standarya adalah aqidah, bila bertentang dengan aqidah, ya harus tinggalkan. Misalnya seperti budaya membuka aurat, menyembah pohon, ya tinggalkan, beda dengan arsitektur, aneka makanan (halal), ya lanjutkan.
Islam masuk ke Cina, arsitektur masjid mirip pagoda, boleh saja. Tapi sembahyang leluhur dengan hio, ya ditinggalkan, itu contohnya. Islam masuk ke Indonesia, maka batik tetap lestari, bahkan menyerap nilai Islam, boleh saja. Tapi menyembah batu dan patung, dihapus. Dalam Islam mudah saja, selama tidak dilarang syariat, amalkan saja. Namun bila sudah ada larangan syariat, Islam ya harus ditinggalkan. Maka dalam Islam, semua produk (fisik atau non-fisik) selain aqidah, boleh saja diadopsi. Teknologi juga termasuk “produk non-aqidah” Tapi produk aqidah, selamanya bukan bagian daripada Islam. Kita mencukupkan diri pada Kitabullah dan Sunnah, itu yang terbaik.

Jadi Muslim tidak harus surbanan, tidak harus jubahan, yang jelas pikirmu, lisanmu, amalmu, harus berasas Islam. Jangan sampai kebalik, surbanan, sarungan, pecian, jubbah,  tapi pola pikirmu dan referensimu liberal, jauh dari Kitabullah dan Sunnah. Lebih bagus lagi batikan, kemejaan, kaosan, celanaan,  lalu setiap mikir, lisan, amal, semua ada dalil Kitabullah dan Sunnah. Lebih keren lagi, bila pecian, sarungan, surbanan, jubahan  dan semua pikir, lisan, amalmu , asasnya Kitabullah dan Sunnah. Tapi kalau Muslimah, jangan sarungam pecian, jangan surbanan jubbah, tapi berhijab syar’i, kerudung dan jilbaban. (HabibRS/Jonru/FelixSiauw)

Thursday, August 6, 2015

Islam Nusantara

Islam Nusantara

Islam Nusantara
 
Sebelum kita bahas apa itu Islam Nusantara, ada baiknya terlebih dahulu kita bahas apa itu Islam dan apa itu Nusantara. Islam berasal dari kata Aslama-yaslimu-islam yang artinya berserah diri dan kedamaian. Lebih lanjut Islam berarti agama yang damai dengan berserah diri kepada Allah yang maha Kuasa, dan orang yang menganut agama Islam disebut muslim. Dalam Al-Qur’an disebutkan “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam…” (QS. Ali Imran: 19).
Nusantara merupakan arah wilayah, pada zaman dahulu wilayah Nusantara tidak hanya Indonesia, tetapi juga termasuk sebagian wilayah Malaisyia. Indonesia merupakan Negara yang majemuk, didalamnya ada banyak ragam budaya, ragam bahasa, ragam suku, ragam ras dan sebagainya. Jadi tepatnya Islam Nusantara adalah Islam yang sesuai dengan kemajemukan yang ada di Indonesia, yang bersifat toleransi. Walaupun Masjid di bakar, muslim dibantai, Islam Nusantara tetap toleransi, tidak boleh dibalas dengan kekerasan.
Siapa yang mengangkat tema Islam Nusantara? Selama penelusuran penulis belum mengetahui siapa yang pertama kali memberi nama Islam Nusantara. Namun semakin hangat pembicaannya ketika Muktamar NU (Nadlatul Ulama) ke 33 di Jombang yang mengangkat tema Islam Nusantara. Berbagai perdebatan pun terjadi di media, ada yang pro ada pula yang kontra. Islam Nusantara sebelumnya juga menjadi tema bahasan dengan berdirinya Jamaat Islam Nusantara, dan kemudian muncul situs www.islamnusantara.com pembahasan pun semakin indah. Sampai-sampai dunia Internasional juga membahas masalah Islam Nusantara di gedung PBB.
Bagaimana hakikat Islam Nusantara? Dari berbagai pendapat yang di lontarkan. Ada pendapat yang mengatakan “Islam Arab beda dengan Islam Nusantara” dari pekataan ini saja sudah jelas arahnya kemana. Mereka ingin menciptakan opini untuk anti ke arab-araban. Semua yang datang dari arab tidak sesuai dengan apa yang ada di Indonesia, karena Indonesia memiliki ragam budaya dan masalah. Dari pendapat ini kemudian muncul berbagai opini terhadap Islam Nusantara.
Kalau memang tujuannya untuk anti terhadap Arab, maka shalat jangan menghadap ke Mekkah, kerena Mekkah terletak di Arab. Semua yang berbaur Arab harus ditinggalkan dan diganti dengan ragam Jawa atau Nusantara. Haji jangan juga ke Arab, Al-Qur’an juga jangan dipakai karena berbahasa Arab. Hampir semua dasar-dasar Islam harus dibuang karena Islam Nusantara beda dengan Islam yang ada di Arab. Oleh karena itu ide Islam Nusantara adalah ide salah.
Gagasan lain juga di lontarkan untuk mendukung gagasan Islam Nusantara, “Islam harus masuk kedalam budaya”. Kalau Islam masuk kedalam ranah budaya maka Islam akan tinggal namanya saja. Namun aturan dalam Islam, sudah tidak ada lagi. Karena budaya Indonesia beda dengan budaya Cina. Budaya Arab sangat jauh beda dengan budaya Eropa. Maka jika Islam yang mengikuti adat dan budaya, semua dasar-dasar Islam harus dibuang, karena tidak sesuai dengan adat dan budaya setempat. Misalnya ketika ada adat budaya yang memasang sesajen dan jampi-jampi yang jelas-jelas syirik dalam Islam, jika harus mengikuti adat dan budaya tentunya Islam kehilangan jati diri sebagai agama yang mentauhidkan Allah l.
Oleh karena itu Islam bukan agama adat dan budaya. Islam adalah agama yang diridhai Allah dan telah sempurna. Dari itu seharusnya Islam kita jadikan adat budaya, bukan adat budaya kita jadikan Islam. Jangan jadikan Islam Nusantara, tapi Islamkan Nusantara sebagai mana tema Milad FPI ke 17, tanggal 17 Agustus 2015 nantinya. Sudah seharusnya kita untuk meninggalkan yang sesat dan kembali kepada yang haq.
Kenapa Islam semakin rancu di Indonesia? Karena umat Islam di Indonesia mengenal Islam dari pertanya bangaimana berislam? Bukan dari pertanya kenapa harus berislam? Jika pertanyaannya di mulai dari bagaimana cara shalat dan puasa, yang tau cara shalat tapi malah meninggalkannya. Karena belajar dari bagaimana sehingga muncul Islam budaya, Islam moderat, Radikal, dan Nusantara.
Inilah sebabnya penulis mengajak untuk kembali, menanyakan kenapa harus berislam. Sebelum kita menjawab pertanyaan kenapa tersebut, penulis ingin memaparkan hasil pengamatan dari masyarakat di Negeri Bebek. Negeri bebek merupakan negeri yang populasinya penduduknya muslim terbesar di dunia yang berhasil mengalahkan Indonesia. Negeri yang kaya raya akan hasil buminya. Negeri tersebut jika kita lempar tongkat, tumbuh pohon. Apalagi jika yang dilempar adalah pohon, maka hutan yang akan tumbuh.
Negeri yang ijo royo ini diberikan namanya negeri bebek. Kenapa mereka berikan negeri bebek. Menurut para pendiri Negara, mereka mengusulkan agar nama negeri tersebut diberikan nama sesuai dengan adat kebiasaan masyarakat setempat. Akhirnya gagasannya diterima dan diberikanlah namanya negeri bebek. Karena kebiasaan masyarakat disana suka ikut-ikutan.
Seandainya bebek bisa bicara, lalu kita tanyakan kepada bebek yang paling belakang. Kenapa lewat situ, dia akan menjawab sorri mas aku baru disini. Coba Tanya saja yang didepan lagi. Yang didepan juga tidak tau mau kemana, Cuma mengikuti kakak kelas saja. Kita Tanya yang didepan lagi, juga jawaban tidak tau mau kemana. Sampai ke yang paling depan juga jawaban tidak tahu. Karena dari dulu jalannya lewat sini. Mereka tidak tau kalau jalan itu arahnya ketempat pemotong bebek.
Disisi lain negeri bebek rakyatnya hidup dibawah garis kemiskinan, berbagai kriminalitas ada disana. Mulai dari sexs bebas sampai oborsi juga banyak terjadi disana. Disebuah kota sana anak-anak SMP mereka sudah pernah melakukan hubungan intim antara 7 dari 10 wanita. Keperawanan sudah tidak berharga lagi disana, yang terjadi pada mereka yang kaya akan alam, tapi mereka putus sekolah. Katanya 12 tahun gratis sekolah, tapi nyatanya mereka harus bayar uang seragam, SPP dan uang lainnya.
Setelah lulus SMA, mereka hanya 20% diantara mereka yang melanjutkan ke penguruan tinggi. Sisanya mereka memilih untuk berhenti sekolah dengan beribu macam alasan. Mulai dari putus ekonomi sampai karena budaya mereka, untuk apa kuliah jika akhirnya pengangguran juga. Memang kenyataannya begitu, 30% dari mereka yang lulus sarjana yang mendapatkan kerja, dan sisa 70% lagi hanya membawa title sarjana saja.
Anehnya lagi di penguruan tinggi Islam Negeri Bebek Al-Qur’an di hina, Nabi dicaci maki. Ketika ditanya siapa tuhannya, mereka menjawab Allah, siapa nabinya, Muhammad. Tapi segala perintah dan larangannya mereka tinggalkan. Mereka lebih memilih perintah dan larangan adat budaya, dan yang paling menegangkan lagi mereka lebih mengikuti budaya barat. Segala yang datang dari barat semua itu benar, menurut mereka.
Para pemimpin mereka juga memiliki macam model, namun tidak lebih dari pada para pecundang dan pengecut. Mereka menutup mata ketika umat Islam yang dibantai. Mereka lebih senang untuk mengelingi dunia dengan uang rakyat. Walau ada kiyai yang masuk kedalam ranah pemerintah di negeri bebek. Masuk Kiyai dan keluarnya pengelapan dana haji. Dari itu muncul kata opini bahwa “rakyat dilarang korupsi karena kami tidak suka berkompetisi”. Sehingga dari dulu sampai sekarang korupsi tetap paling tinggi didunia.  
Apakah semua di negeri bebek buruk semua? Tenang!!! Mereka masih memiliki prestasi yang tidak dimiliki oleh Negara lain. Ketika Negara Jepang mengunjungi negeri bebek. Mereka kagung terhadap prestasi kreatif di negeri bebek. Di Jepang hantu itu, itu-itu saja. Namun di negeri Bebek ada banyak hantu. Ada hantu pocong, ada hantu kuntilanak, ada hantu casablangca ada juga suster ngesot. Ada pocong perawan, ada juga tali pocong perawan, yang belum ada tali pinggang perawan. Sehingga Jepang meminta satu hantu kepada Negeri Bebek sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jepang. Sesampai di Jepang hantu diganti nama menjadi Sudako. Filmnya laris manis dan mendapatkan perhargaan dunia Internasional, maka dari itu negeri Bebek dikenal sebagai negeri yang sukses mengekspor setan.
Prestasi lain ngeri bebek, disetiap ulang tahun kemerdekaan mereka akan selalu mengadakan perlombaan makan kurupuk, tarik tambang, panjat pinang. Ketika ditanya pak RT kenapa lombanya itu-itu saja. Maka pak RT bilang dari dulu juga begitu. Jadi pantas mereka tidak maju-maju. Karena mereka tidak berani untuk meninggal yang dulu. Coba dibalik tarik kurupuk, makan karung, berani tidak.
Sebauh kareta eksekutif tujuan Internasional, didalanya memiliki fasilitas yang lengkap dan bisa keliling dunia dalam waktu 10 jam. Jika anda diberikan kesempatan secara gratis untuk naik kereta itu mau atau tidak. Mau..!!! tapi tujuannya ke juran, mau. Maka sebelum naik Tanya dulu kemana tujuannya.
Semua yang terjadi di negeri bebek karena mereka tidak memilik The way To Belief (Jalan menuju keimanan). Mereka belum bisa menjawab Way of Litle. Dari mana asal manusia?, apa tujuannya dan hendak kemana setelah hidupnya. Jika anda pernah menonton film The Matrix, maka akan menjawab pertanyaan tersebut. Manusia berasal dari mesin, sekarang lagi diaktifkannya dan akan kembali menjadi mesin. Namun jika anda pernah menonton film Cina “Sun Go Kong”, ini juga bisa menjawab tiga pertanyaan tadi. Dari mana asal manusia ada dengan sendiri, dan hendak kemana natinya, mereka memahami rekernasi. Setelah mati roh akan masuk ke tubuh yang lain, setiap kehidupan akan ada kematian dan setiap kematian akan ada penghidupan dan begitu seterusnya.
Dari mana asal manusia. Jika anda pernah sekolah pas SD sampai SMA, akan ada mata pelajaran sejarah. Dari mana asal manusia? Manusia berasal dari Monyet. Guru mengatakan demikian, Prof dan Dr juga mengatakan hal yang sama. Akhirnya kita di doktrin bahwa manusia berasal dari monyet. Apakah benar manusia berasal dari monyet?
Menurut teori Evolusi atau yang lebih dikenal dengan teori Darwin, mengatakan bahwa makhluk ini ada begitu saja tanpa ada penciptaan. Makhluk yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan akan masnah. Tapi anehnya teori ini dipercayai oleh sebagian besar para ilmuan. Seharusnya jika teori demikian, maka Monyet tidak ada lagi. Semuanya sudah jadi manusia, atau paling tidak seharusnya Monyet tidak makan pisang lagi, sudah bisa main computer. Karena yang tidak bisa menyesuaikan diri, maka akan musnah. Disisi lain, capung yang ditemukan zaman dulu dengan sekarang tidak ada yang beda. Ikan dulu dengan sekarang juga sama. Sumut dulu dengan yang sekarang juga tidak berubah menjadi satria baja hitam. Tapi sekarang monyet ada dimana-mana. Kalau anak-anak pulang sekolah ditanyai sama orang tua, kira-kira kita berasal dari Monyet mana? Maka jangan marah, karena itu yang diajarkan di sekolah.
Sekarang pertanyaan kita, berasal dari manakah itu manusia?. Anda mungkin akan menjawab dari ibu dan bapak. Terus ibu dan bapak anda dari mana? Dari kakek dan nenek. Kakek dan nenek itu dari mana? Dari buyut dan seterusnya. Tidak ada jawaban yang pasti. Atau mungkin anda akan menjawab dari reproduksi. Hasil pencampuran antara sperma dan ovum. Dari ribuan sperma yang masuk yang selamat jadilah diri anda.
Bisakah terjadi begitu saja tanpa ada proses yang demikian sempurna. Tidak mungkin ada begitu saja kalau tanpa ada yang menciptakan. Sperma yang begitu kecil bisa menjadi diri anda yang begitu besar. Bagaimana bisa terjadi kalau tidak ada yang mengatur. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang menciptakan dan mengatur semua ini. Jawabannya adalah Allah l, dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 28 Allah menjelaskan bahwa kita manusia pertamanya mati kemudian Allah menhidupkannya. Dari sinilah kita ketahui bahwa Allah lah yang menhidupkan kita, yang mengerakkan kita, yang mengatur kita semua.
Setelah kita dihidupkan oleh Allah untuk apa kita didunia ini. Dalam hal ini Allah jelaskan bahwa tugas manusia didunia adalah untuk beribadah kepadanya. “dan tidak kuciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku.” (QS. Al-Ahzab:58). Semua itu kita dapatkan didalam Al-Qur’an. Pertanyaan kenapa kita percaya kepada Al-Qur’an. Karena kita muslim. Kenapa anda muslim. Karena ibu dan bapak muslim. Kenapa ibu dan bapak muslim. Karena kakek dan nenek juga muslim. Dan seterusnya. Karena sudah dari dulu juga demikian. Sama seperti bebek yang suka ikut-ikutan.
Kenapa kita jadikan Al-Qur’an itu sebagai kitab suci. Karena firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 2;

y7Ï9ºsŒ Ü=»tGÅ6ø9$# Ÿw |=÷ƒu‘ ¡ Ïm‹Ïù ¡ “W‰èd z`ŠÉ)­FßJù=Ïj9 ÇËÈ  
“Kitab[1] (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.[2]”
Dari ayat diatas Allah l jelas menginformasikan kepada kita bahwa Al-Qur’an sebagai pedoman pentujuk yang tidak perlu diragukan lagi. Kenapa Al-Qur’an tidak perlu diragukan lagi? Dalam menjawab pertanyaan ini, Allah l. Memberikan jawabannya dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 23-24
bÎ)ur öNçFZà2 ’Îû 5=÷ƒu‘ $£JÏiB $uZø9¨“tR 4’n?tã $tRωö7tã (#qè?ù'sù ;ou‘qÝ¡Î/ `ÏiB ¾Ï&Î#÷VÏiB (#qãã÷Š$#ur Nä.uä!#y‰ygä© `ÏiB Èbrߊ «!$# cÎ) öNçFZä. tûüÏ%ω»|¹ ÇËÌÈ   bÎ*sù öN©9 (#qè=yèøÿs? `s9ur (#qè=yèøÿs? (#qà)¨?$$sù u‘$¨Z9$# ÓÉL©9$# $ydߊqè%ur â¨$¨Z9$# äou‘$yfÅsø9$#ur ( ôN£‰Ïãé& tûï̍Ïÿ»s3ù=Ï9 ÇËÍÈ  
“dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah[3] satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) - dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.”
            Dari ayat diatas jelas, Al-Qur’an menantang bagi yang meragukan Al-Qur’an. Kalau anda mengajak adu jotos satu lawan satu itu fair. Namun Al-Qur’an tidak fair, Al-Qur’an mengatakan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah. Jika kamu yang benar. Tantangan ini sampai sekarang belum ada yang mampu untuk menandinginya. Maka disini jelas Al-Qur’an adalah mu’jizat sepanjang masa. Arti dari mu’jizat itu sendiri adalah melemahkan. Oleh karena itu Al-Qur’an melemahkan kita, untuk menerimanya sebagai kitab suci, karena tidak ada tandingannya.
Maka Way of Litle, manusia berasal dari Allah. Tugas didunia adalah beribadah kepada Allah. Dan kita akan kembali kepada Allah, hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat Al Baqarah ayat 28. Inilah yang nama tauhid. Kita berasal dari Allah yang hidup didunia ini untuk beribadah kepada Allah l. Sesuai dengan aturan yang telah Allah tetapkan dalam Al-Qur’an dan As-sunnah. Sebagai contoh, ketika kita membeli HP, tentunya baru bisa digunakan harus memakai sim card, tidak membanting, tidak dimasukkan kedalam air. Semua aturan tersebut kita dapatkan dari buku petunjuk manual dari pabrik yang menciptkan HP. Namun bagaimana jikalau kita tidak menggunakan petunjuk atau kita menggunakan buku petunjuk yang lain missal petunjuk kulkas. Pasti akan rusak karena masuk air.
Begitu juga kita manusia sebagai ciptaan tuhan, Allah telah memberikan kepada kita buku petunjuk didunia ini agar kita tidak tersesat. Yaitu Al-Qur’an yang manulia dan Allah menurunkan rasul sebagai suri tauladan yang harus kita ikuti. Bukan saja kita yakin ada aturan-uturannya tetapi kita juga nantinya akan dihisap oleh Allah. Yaitu mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan didunia ini. Sesuai dengan petunjuk atau tidak.
Contoh lain, misalnya untuk menjadi seorang karyawan anda tentunya akan di Interview, dan ada perjanjian kotrak kerja. Misalnya masuk jam 7 keluar jam 12. Namun bagaimana jika kita melanggarnya. Tentu akan ada SP 1 dan SP2. Setelah SP 2 kita datang jam 10 untuk kerja maka cari bos lain saja, karena kita tidak bisa kerja sama dengan mereka. Begitu juga dengan hidup kita didunia. Kita telah ada perjanjian dengan Allah bahwa dialah tuhan kita.
Namun jika kita melanggarnya maka jangan heran kalau Allah kasih untuk peringatan, seperti banjir dan sebagainya. Untung saja Allah tidak menyuruh kita untuk mencari tuhan yang lain.  Sebagaimana firman Allah l. Dalam Al-Qur’an:
öqs9ur ¨br& Ÿ@÷dr& #“tà)ø9$# (#qãZtB#uä (#öqs)¨?$#ur $uZóstGxÿs9 NÍköŽn=tã ;M»x.tt/ z`ÏiB Ïä!$yJ¡¡9$# ÇÚö‘F{$#ur `Å3»s9ur (#qç/¤‹x. Mßg»tRõ‹s{r'sù $yJÎ/ (#qçR$Ÿ2 tbqç7Å¡õ3tƒ ÇÒÏÈ  
“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Wallahu’alam…..
Amriadi Al Masjidiy (Direktur Islamic Research Forum)



[1] Tuhan menamakan Al Quran dengan Al kitab yang di sini berarti yang ditulis, sebagai isyarat bahwa Al Quran diperintahkan untuk ditulis.
[2] Takwa Yaitu memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-perintah-Nya; dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya; tidak cukup diartikan dengan takut saja.
[3] Ayat ini merupakan tantangan bagi mereka yang meragukan tentang kebenaran Al Quran itu tidak dapat ditiru walaupun dengan mengerahkan semua ahli sastera dan bahasa karena ia merupakan mukjizat Nabi Muhammad s.a.w.