Monday, September 21, 2015

Agama Budha (Studi Perbandingan Agama)


 Oleh: Andi Marwan, A.Ma
*) Alumni Akademi Da'wah Indonesia Sambas.
A.    Sejarah berdirinya agama budha
Agama budha lahir pada abad ke-6 sebelum maseh. Agama budha  diindia didirikan oleh siddharta Gautama. Siddharta Gautama adalah anak seorang raja yang bernama suddhuna yang memerintah suku syakia, ibunya bernama Maya dan Ayahnya seorang Raja di Nepal.[1] Siddharta dilahirkan pada tahun 563 sebelum masehi[2].Tempat lahirnya di lumbini. Istrinya bernama Gopa dan kemudian mendapat seorang anak laki-laki yang bernama Rahula. Menuut suatu riwayat peristiwa pada tahun 531 SM, Siddharta sudah berusia 35 tahun, jadi nama budha bukan berasal dari nama oang akan teatapi nama gelar.[3]
Beliau pergi kemana-mana untuk mencari ilmu  yang sempurna, tetapi sia-sia saja. Kemudian dia mencari jalan sendiri, dibawah pohon Bodhi Siddharta mendapatkan ilham, menerima petunjuk bagaimana orang dapat melepaskan diri dari sam-sara(sengsara). Peristiwa ini terjadi di Gaya, dan tempat ini kemudian disebut Bodh-Gaya, sesudah itu Siddharta pergi ke kaci, hemdak menyebarkan ilmunya. Khutbah pertama kali di adakan ditaman rusa di Benares. Pada tahun 480 SM Siddharta sakit dan meninggal dunia di Kusinara pada usia 80 tahun, jenazahnya dibakardengan upacara besar-besaran, abunya dibagikan menjadi 8 bagian dan ditempatkan abunya ke dalam stupa istimewa yaitu kuburan dan rumah-rumah kultus berbentuk khubbah.[4]
Maka terdapat 4 kota yang hingga sekarang masih dijadikan tempat suci bagi pemeluk agama budha, yaitu:[5]
1.      Kapilawastu, tempat asal budha
2.      Bodh-Gaya, tempat menerima ilham
3.      Benares( kaci), tempat mengajarkan agama pertama kalinya
4.      Kusinara, tempat  meninggal dunia

Adapun Budha mempunyai beberapa sebutan yang bertalian erat dengan riwayat hidupnya:[6]
a.       Budha Gautama, yaitu orang yang ilham
b.      Siddharta, yaitu orang yang mencapai tujuan
c.       Cakyamuni, yaitu orang yang bijaksana
d.      Tathagata, yaitu orang yang mencapai kenyataan
e.       Yina, yaitu orang yang mencapai kemenangan

            Terdapat dua mazhab besar dalam agama budha yaitu:
a.       Mazhab Theravada, yang cenderung mempertahankan kemuriaan agama budha, yang menggunakan kitab tripatika berbahasa pali. Biasa disebut dengan Budha aliran selatan.
b.      Mazhab Mahayana, yang cenderung mempertahankan makna-makna hakiki ajaran Budha, menggunakan kitab berbahasa sansakerta. Biasa disebut dengan Budha aliran utara.[7]
Dijawa perkembangan agama budha mencapai kejayaan keemasan pada masa kerajaan mataram kuno di kebu, jawa tengah, pada abad ke 8 dan 9
B.     Kitab sucinya
Kitab suci dalam agama budha disebut dengan tripitaka. Tri berarti tiga dan pitaka bermakna keranjang atau bakul, yang dimaksud dengan bakul disini adalah keranjang hikmah[8].
            Adapun yang termuat dalam tripitaka itu adalah:
1.      Sutta Pitaka, berisikan himpunan ajaran dan khutbah Budha Gautama. Bagian besar darinya adalah terdiri dari dialog antara budha dengan berbagai muridnya.
2.      Vinaya Pitaka, berisi peraturan tata hidup setiap angota biara(sangha).
3.      Abidhamma Pitaka, berisiskan berbagai himpunan yang berisi berbagai himpunan yang mempunyai nilai tinggi.
Kitab suci Budha ditulis dalam bahasa “pali” yakni bahasa rakyat umum. Berbeda dengan kita suci hindhu ditulis dengan bahasa sangsakerta yakni bahasa yang digunakan oleh masyarakat lapisan atas.

C.     Pokok-pokok ajaran Budha[9]
Ajaran budha bersumber dari kitab sucinya yang bernama tripitaka. Adapun ajaran budha dapat dirangkum didalam apa yang disebut Triratna(tiga batu permata), yaitu:
1.      Ajaran tentang Budha
Menurut keyakinan mereka ada banyak budha yaitu orang yang sudah mendapatkan pencerahan Buddhi, Menurut sebagian pendapat dari umat Budha(jemaat selatan), sebelum Budha Gautama sudah ada 23 Budha yang mendahuluinya, tetapi menurut jemaat utara ada banyak lagi.
2.      Ajaran tentang Dharma
Adapun yang dimaksud dengan Dharma ialah pokok ajaran. Inti ajaran budha dirumuskan didalam “Empat Kebenaran yang Mulia” atau disebut juga dengan “catur arya satya” itu adalah
a.       Dukha, artinya penderitaan. Maksudnya adalah hidup didunia ini adalah penderitaan
b.      Samudaya, artinya penderitaan, adapun yang menyebabkan penderitaan adalah keinginan hidup yang disebut tanha
c.       Nirodha, artinya pemadaman. Yaitu cara memadamkan atau menghilangkan penderitaan itu dengan jalan yang tanha.
d.      Margha yaitu jalan untuk menghilangkan tanha.
Adapun delapan jalan mulia atau utama ini adalah :
1.      Kepercayaan yang benar
2.      Niat dan pikiran yang benar
3.      Perkataan atau permbicaraan yang benar
4.      Usaha yang benar
5.      Kesadaran yang benar
6.      Perbuatan yang benar
7.      Daya upaya yang benar
8.      Semadhi/ pengarahan pikiran ynag benar[10].
 Dalam syahadat(ucapan kesaksian) agama budha  yang disebut dengan Triatna, berbunyi:[11]
1.      Budham Saraman Gaccahami = aku berlindng kepada Budha
2.      Dhammam Saranam Gaccahami= aku berlindung kepada Dharma ( hukum)
3.      Sangham Saranam Gacchami= aku berlindung kepada Sanga(biara dan pendeta)
3.      Ajaran tentang Sanga[12]
Pengikut agama budha terbagi menjadi dua bagian, para Bhiksu atau para Rahib dan para kaum awam. Pengikut budha yang awam wajib menjauhi larangan-larangan sebagai berikut
a.       Dilarang membunuh sesame mahluk
b.      Dilarang mencuri, dsb
c.       Dialarang berzina
d.      Dilarang berdusta
e.       Dilarang minum minuman yang memabukan
Sedangkan kewajiban bagi anggota bikhsu adalah
a.       Dilarang membunuh sesame mahluk
b.      Dilarang mencuri, dsb
c.       Dialarang berzina
d.      Dilarang berdusta
e.       Dilarang minum minuman yang memabukan
f.       Dilarang makan kecuali pada tempat tertentu
g.      Dilarang mendatangi tempat hiburan
h.      Dilarang bersolek
i.        Dilarang tidur ditempat yang mewah
j.        Dilarang menerima suap
Sepuluh larangan diatas dalam agama budha disebut dengan Dasa Sila( sepuluh dasar). Untuk itu hanya empat hal yang boleh dimiliki para rahib yaitu:
a.       Pakaian yang terdari tiga potong
b.      Baki tempat minta sedekah
c.       Tikar untuk tidur
d.      Obat-obatan
Harun Hadiwijono mengatakan bahwa seseorang rahib itu dilarang menikah, ia harus membujang seumur hidup nya karena hubungan sex dianggapnya sebagai sumber dosa, kalau dilanggarmaka ia keluar dari rahibnya.
4.      Dasar keyakinan[13]
a.       Keyakinan terhadap Sang Hyang Adi Budha( Tuhan Esa)
b.      Keyakinan terhadap adanya para Bodhisatwa(calon Budha yang berdiam di Nirwana Tusila) dan para Budha
c.       Keyakinan terhadap adanya hukum kesunyataan(hukum yang berlaku dimana-mana)
d.      Keyakinan terhadap kitab suci
e.       Keyakinan terhadap Nirwana
5.      Hari-hari besar umat Budha dan salam agama Budha
a.       Hari Waisak
Hari raya Tri Suci Waisak merupakan hari raya terbesar agama budha, dimana memperingati tiga peristiwa penting, yakni kelahiran Sidharta, pencapaian penerangan yang sempurna, dan pariniibbana nya sang budha. Pada dasarnya tidak ada salam yang khusus untuk menyapa dalam agama Budha, semuanya dikembalikan kepada kebudayaan setempat dan pribadi masing-masing. Di Indonesia beberapa umat bdha mengucapkan salam “ Namo Budhaya” yang artinya adlam “halo”, “apa kabar”, “ salam sejahtera”. Beberapa umat budha yang lain mengacu pada salam yang diambil dari tradisi agama budha yang muncul di india yaitu “Namaste” yang artinya kurang lebih “ saya memberikan salam hormat kepada anda”.


b.      Hari Asadha
Hari Asadha umumnya jatuh pada bulan juli, untuk memperingati Khotbah pertana Sang Budha.[14]
c.       Hari Kathina
Hari kathina adalah haru memperingati berakhirnya masa Vasa bagi para Biksu. Pada kesempatan tersebut umat budha mendapatakn kesempatan untuk berdana kepada sangha dalam bentuk jubah bikkhu, mangkok untuk menerima makanan dan obat-obatan, dan keperluan bikkhu lainnya. Hari Kathina biasanya jatuh pada bulan Oktober.[15]
d.      Hari Magha Puja
Hari ini yang biasa diperingati pada bulan februari,untuk memperingati 1250 arahat.[16]
e.       Sekte dalam agama budha
Setalah Sidharta wafat terjadi perpecahan, disebabkan karena perbedaan penafsiran terhadap ajaran Budha. Ada kelompok yang ingi mempertahankan ajaran agama Budha apa adanya, mereka disebut dengan Hinayana. Dan ada ula kelompok yang mendasarkan ajaran agama Budha kepada keterangan guru mereka, mereka dikenal dengan golongan Hamayana.
a.       Golongan Hinayana
Aliran ini disebut Hinayana (kendaraan atau kereta kecil), karena menurut aliran ini hanya sedikit sekali orang-orang pilihan yang dapat sampai kemartabat Budha yang tertinggi disebut dengan tingkatan Arahat. Aliran ini sesuai dengan keaslian ajaran Budha, mereka tidak mengenal dewa-dewa penyelamat manusia, karenatidak dapat terdapat upacara keagmaan dan pemujaan yang maha suci. Pokok-pokok ajaran Hinayana ialah sebagai berikut:
ü  Manusia dipandang sebagai individu dalam usahanya.
ü  Tergantung pada dirinya sendiri untuk kebebasan alam ini.
ü  Kunci keutamaan manusia adalah kebijaksanaan.
ü  Agama sepenuhnya adalah tugas kewajiban pendeta.
ü  Tipe idealnya adalah Arhat.
ü  Budha dianggap seorang yang suci.
ü  Membatasi do’a
ü  Meninggalkan atau menolak melakuka upacara keagamaan
ü  Bersikap kolot karena ingin mempertahankam yang lama
ü  Tidak mengenal dewa-dewa
ü  Tidak mengenal mantra-mantra
b.      Golongan Mahayana
Golongan Mahayana berarti kereta besar. Alasan diartikan demikian ialah karena  ia dapat menampung sebanyak-banyaknya orang yang ingin masuk Nirwana dan ia mempunyai prinsip bahwa setiap manusia yang telah mencapai ilham dapat menolong orang lain mencapai ilham pula. Aliran ini mulai tumbuh sekitar abad ke-2 M. Adapun ajaran pokok aliran ini adalah
ü  Dalam mencapai nirwana dapat saling menolong
ü  Orang tidak sendirian dalam mencapai kelepasan
ü  Kunci keutaman adalah kasih saying
ü  Agama mempunya hubungan dengan kehidupan orang awanm dan pendeta
ü  Tipe ideal manusia adalah orang yang telah mencapai ilham
ü  Budha dipandang sebagai juru selamat
ü  Melaksanakan dengan teliti hal-hal yang berhubungan dengan metafisika
ü  Mengadakan upacar keagaman
ü  Melakukkan do’a kepada dewa-dewa budha
ü  Ajaranya bersifat liberal
ü  Mengenal dewa-dewa

D.    Konsep Tuhan Dalam Agama Budha
Ummat Budha meyakini bahwa sidharta Gautama adalah putra tuhan. Dialah penebus dan penanggung seluruh kesalahan-kesalahan manusia. Mereka meyakini bahwa budha telah disempurnakan oleh inkarnasi roh Kudus pada jiwa perwan maya.[17]
Tak dapat dikatakan bahwa didalam ajaran agama budha seperti yang terdapat didalam kitab-kitab Pitaka terdapat ajaran tentang tuhan atau tokoh yang dipertuhankan. Tujuan hidup bukan kembali kepada Tuhan, melainkan masuk kedalam Nirwana, pemadaman suasana yang tampa kemauan, tanfa perasaan tanpa keinginan, tanpa kesadaran, suatu keadaan dimana orang tidak lagi terbakar oleh nafsunya, itulah situasi damai.[18]

E.     Konsep Wahyu Dalam Agama Budha
Wahyu dalam agama Budha adalah seluruh perkataan atau khotbah sang Budha yang terdapat didalam Sutta Pitaka yang merupakan salah satu dari kitab Tri Pitaka.[19]
Khotbah atau yang di anggap wahyu/sabda sang hyang budha Gautama yang terdapat di Sutta Pitaka adalah manuskrip asli percakapan antara Budha dan para muridnya.[20]
Mereka mengaku akan adahanya tuhan yang satu, namaun pada prakteknya mereka lebih menyembah kepada para Budha ( Patung Budah)[21]. Tempat ibadah mereka adalah di Vihara, Vihara secara harpiah berarti tempat persinggahan, merupakan tempat tinggal atau kediaman para Bikkhu.[22]

F.      Konsep Nabi Dalam Agama Budha
Didalam agama Budha tidak dikenal istilah nabi tetapi mereka lebih mengenal yang namanya Biksu (Bikhhu). Biksu adalah orang-orang yang melakukan ritual peribadatan dalam agama Budha.[23]

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi Abu, Perbandingan Agama, semarang: Ab. Sitti   Syamsyiah, 1979
Al-Maghlouth Sami bin Abdullah,Atlas Agama-Agama,Jakarta: Al-Mahira, 2011.
Djam’annuri, Agama kita, Yogyakarta,: Kurnia Kalam Semesta, 2002,
Hadiwijono  Harun, Agama Hindu dan Budha, Jakarta: Gunung Mulia, 2013.
Jirhanuddin, Perbandingan Agama, Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2010
Sinaga Abdullah, Makna Agama terhadap Alam Fikiran     Manusia, Medan: Rimbow, 1987



[1] Tim Redaksi, Ensiklopedi Indonesia, Bandung: W. Van Hoeve, hlm. 256
[2]  Jirhanuddin,Perbandingan Agama, Yogyakarta:  Pustaka Pelajar, 2010, hlm. 87
[3] Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, semarang: Ab. Sitti Syamsyiah, 1979, hlm. 47
[4] Ibid, hlm. 48
[5] Abdullah Sinaga, Makna Agama terhadap Alam Fikiran Manusia, Medan: Rimbow, 1987, hlm. 165
[6] Abu Ahmadi, Perbandingan Agama, hlm. 48
[7]  Djam’annuri, Agama kita, Yogyakarta,: Kurnia Kalam Semesta, 2002, hlm. 65
[8] Jirhanuddin, perbandingan Agama, hlm. 91
[9]  Ibid, hlm. 92
[10]  Ibid, hlm. 95
[11] Jirhanuddin,Perbandingan Agama, hlm. 95
[12] Ibid, hlm. 96
[13] Abdullah Sinaga, Makna Agama terhadap Alam Fikiran Manusia, hlm. 167
[14] Tony Tejo, Mengenal Agama Hindu, Budha, dan Kong HuCu, Bandung: Pionir Jaya, 2011, hlm. 91
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17]  Sami bin Abdullah Al-Maghlouth,Atlas Agama-Agama,Jakarta: Al-Mahira, 2011, hlm. 504
[18] Harun Hadiwijono, Agama Hindu dan Budha, Jakarta: Gunung Mulia, 2013, hlm. 101
[19] Sami bin Abdullah Al-Maghlouth,Atlas Agama-Agama, hlm. 509
[20] Ibid.
[21] Tony Tejo, Mengenal Agama Hindu, Budha, dan Kong HuCu,  hlm. 103
[22] Ibid, hlm. 9
[23] Ibid. 

SHARE THIS

Author:

Penulis merupakan penulis bebas dan juga penggiat blockchain dan Cryptocurrency. Terima Kasih sudah berkunjung ke Blog Saya, bebas copy paste asal mencantumkan sumber sebagaimana mestinya.

0 comments: